Kedaulatan Pangan di Tangan Pemuda Adat

bpan.aman.or.id – Pandemi COVID-19 menyebabkan sekolah-sekolah, perguruan tinggi, instansi pemerintahan dan non pemerintahan diliburkan dan diganti secara daring.

Anak-anak muda yang sedang kuliah di luar daerah atau bersekolah di luar komunitas terpaksa pulang kampung atau menetap di rumah saja. Gaya hidup anak-anak muda pun berubah drastis.

Termasuk saya juga kembali ke kampung untuk bertani dan beternak. Dan ini merupakan pekerjaan yang menyenangkan.

Sebelum wabah pandemi, saya banyak bekerja di luar komunitas untuk memperluas pengorganisiran dan pengorganisasian pemuda-pemudi adat.

Pandemi Cov-Sars 2 yang melanda dunia memang begitu memporakporandakan kehidupan rakyat. Ia menyebabkan 561.617 orang meninggal dunia (data per 13 Juli), hingga ancaman krisis pangan di berbagai negara termasuk Indonesia. Sampai saat ini belum ada tanda-tanda kapan pandemi ini akan berakhir.

Meskipun jarak Makassar ibukota Sulawesi Selatan ke komunitas adat Barambang Katute, Sinjai tempatku pulang kampung sekitar 220 kilometer, kami terus berusaha membangun solidaritas antarpetani dalam menjaga ketersediaan pangan.

Saat orang-orang di kota menyerukan di rumah saja, sebaliknya anak-anak muda di kampung justru turun bertani. Hal ini dikarenakan kampung atau komunitas-komunitas adat umumnya melakukan karantina bermartabat sesuai instruksi Sekjen AMAN. Karantina wilayah adat yang terjamin memastikan warga adat termasuk pemuda adat dapat turun ke sawah, ladang, hutan dan laut beraktivitas seperti biasa.

Karena itu, dengan bertani dan beternak para pemuda adat justru semakin solid dalam mengorganisir diri. Di bulan keempat pandemi ini, banyak hal yang dilakukan pemuda adat Barambang Katute untuk menjadi barisan terdepan perihal pangan di komunitas adat.

Dok: Solihin
  1. Membuat kebun kolektif

Dari sebuah lahan kosong seluas setengah hektar, kami membuat sebuah kemplok pertanian secara kolektif. Walaupun lahan seluas ini belum bisa menampung semua anak muda di komunitas adat Barambang Katute, tapi beberapa di antaranya sudah terlibat aktif dalam proses pengusahaannya.

Lahan kolektif ini dikelola 10 orang anak muda, lima di antaranya berasal dari komunitas adat Barambang Katute, termasuk saya. Di lahan setengah hektar, sejak awal Maret kami tanami berbagai tanaman jangka pendek, seperti cabai sebanyak 2.000 batang yang dalam waktu dekat akan mulai panen raya.

Kemudian sisa dari lahan kolektif yang dipinjam selama 10 bulan sejak Maret hingga Desember itu digunakan untuk menanam ubi jalar yang saat ini sedang berproses pengolahan tanahnya dan menuju masa tanam di pertengahan Juli yang kalau berproses dengan baik maka diprediksi akan panen antara September dan Oktober.

  1. Membangun pusat pelatihan pertanian

Pembelajaran pertama yang dapat dipetik dari pandemi COVID-19 ini khususnya di anak-anak muda yaitu bahwa petani-petani di kampunglah yang paling berdaulat atas pangannya. Dari pembelajaran sesederhana itu tercipta kesadaran di kalangan anak muda bahwa sumber pengetahuan sesungguhnya ada di kampung apalagi tentang pertanian dan mengelola sumber daya alam.

Namun, karena para pemuda adat tidak terorganisir dengan baik, maka pengetahuan itu hilang digantikan dengan pengetahuan modern yang berbiaya mahal, tidak ramah lingkungan dan membuat mereka semakin jauh dari kampung.

Atas kondisi itulah, maka kami bersepuluh berpikir tentang metode pengorganisiran pengetahuan-pengetahuan lokal dan memproduksi ilmu kesadaran pulang kampung dengan kesadaran kolektif. Lantas alasan tersebut membuat kami berencana membangun pusat pelatihan pertanian. Adapun modelnya kelak, karena ini bagian dari rencana panjang anak-anak muda, akan dibangun dari hasil lahan kolektif. Setidaknya pendiskusian hingga pematangan rencana itu telah selesai di tingkatan anak muda.

Dok: Solihin
  1. Pertanian organik

Disadari atau tidak, pertanian kimia yang mahal, tidak ramah lingkungan dan tidak sehat itu telah menyusup hingga jauh sekali di komunitas adat. Untuk membuat warga komunitas adat secara umum ataupun petani menyadarinya bukanlah sebuah pekerjaan sehari dua hari, tapi membutuhkan waktu bertahun-tahun bahkan puluhan tahun.

Bagi pemuda adat yang memiliki semangat yang kuat, bukanlah alasan untuk menyerah begitu saja karena pekerjaan itu sangat mungkin dilakukan. Lewat inisiatif bertani secara kolektif tadi, perlahan-lahan semangat pertanian organik dapat dilaksanakan. Paling tidak sudah ada kami 10 pemuda adat yang mulai menerapkan.

Saya berharap, upaya itu kelak menjadi pemantik untuk anak muda lainnya ikut terlibat dan menerapkan pertanian organik. Searah dengan rencana pembangunan pusat pelatihan pertanian itu pula, maka akan dipadukan pertanian organik, pengetahuan Masyarakat Adat hingga pelestarian tanam herbal dan pengorganisasian anak-anak muda di tingkat tapak.

Dari perencanaan di atas baik yang sedang berjalan maupun masih dalam proses, sesungguhnya masih banyak lagi aktivitas yang kami lakukan secara sendiri-sendiri seperti menanam pisang, menanam padi, panen jagung, beternak sapi, menyadap aren, dan masih banyak lagi yang tidak kalah urgen untuk didiskusikan di lain kesempatan.

Semoga kelak kita bersama mencapai kedaulatan pangan kampung yang ramah lingkungan dan para pemuda adat sebangai benteng kedaulatannya.

~Solihin, pemuda adat Barambang Katute

Bagaimana Pemuda Adat Inhu Menangkal Ancaman Krisis Pangan

bpan.aman.or.id – Supriadi Tongka kerap kali memposting foto-foto aktivitas sehari-harinya ke Facebook. Pernah ia memposting foto-foto lagi memanen padi, menanam benih kacang sampai yang terbaru pisang.

Beberapa waktu lalu, ia juga menjadi salah satu pemantik dalam Webinar bertajuk Tetap Panen Dimasa Sulit di Wilayah Adat yang diselenggarakan Pengurus Nasional BPAN. Bersama Beldis Salestina, Jhontoni Tarihoran, Modesta Wisa dan Sekjen AMAN Rukka Sombolinggi, ia berbagi cerita tentang gerakan pulang kampung. Salah satu konteks konkret dibahas yaitu berkaitan dengan pangan terutama dimasa COVID-19.

Barisan Pemuda Adat Nusantara Daerah Indragiri Hulu, Riau, di mana Supriadi menjadi ketua untuk periode 2016-2019, saat ini sedang mengolah lahan berbidang empat hektar dan sudah ditanami aneka macam tumbuhan pangan. Ada kacang panjang, sayuran, pisang hingga umbi-umbian.

Menurut Supriadi Tongka, saat ini pemuda adat Talang Mamak dipercaya para Batin (tetua adat) guna mengelola wilayah adat secara komunal. Komunal artinya dikelola dan dimiliki secara bersama. Lahan tersebut selain bertepatan dengan pangan yang sedang menjadi persoalan dunia, juga sejak awal diperuntukkan sebagai aksi konkret pemuda adat di mana mereka langsung terjun bertani untuk tujuan kemandirian ekonomi.

Melalui penanaman ini pula mereka menunjukkan bahwa pemuda adat selain berjaga atas wilayah adat dan seluruh hak-hak yang melekat di atas dan di bawahnya, juga sebagai bentuk kesadaran bahwa pemuda adat harus bisa mandiri bahkan suatu saat membuka lapangan kerja.

Suher, Ketua Daerah BPAN Inhu menambahkan bahwa para pemuda adat bercocok tanam di wilayah adat sebagai bukti bagaimana dalamnya makna wilayah adat bagi Masyarakat Adat. Sebab, katanya, perjuangan kita selama ini adalah jangka panjang yang menghidupi.

Selain itu, Suher juga menekankan bercocok tanam sangat dibutuhkan dalam jangka waktu pendek. Sebab kondisi ketahanan pangan dalam situasi sulit ini adalah hal utama untuk menyambung hidup.

Badan Pangan dan Agraria Dunia (FAO) pada April lalu mengingatkan dunia, khususnya negara anggotanya di mana Indonesia termasuk di dalamnya, bahwa ancaman krisis pangan mengintai dimasa pandemi COVID-19. Pemerintah Indonesia juga tampak menaruh perhatian serius pada peringatan tersebut.

Artinya ancaman krisis pangan bukan tidak mungkin terjadi. Dimasa sulit sekarang, pangan menjadi bagian tak terpisahkan yang menjadi pertaruhan harian sampai berbulan.

Masyarakat Adat Nusantara yang berjuang bersama di AMAN juga telah jauh-jauh hari memprediksi dan menyiapkan diri untuk ancaman itu. Sejak awal virus corona merebak di Indonesia, Sekjen AMAN Rukka Sombolinggi langsung mengeluarkan instruksi agar seluruh komunitas melakukan karantina wilayah bermartabat. Selain itu, dalam poin pentingnya juga diinstruksikan untuk mengecek dan mempersiapkan kebutuhan pangan.

Pemuda adat juga sadar betul bahwa kondisi sulit ini belum tahu kapan berkahir. Yang pasti pandemi terparah sejak Perang Dunia II ini tidak akan berakhir dalam waktu singkat. Sampai sekarang pun vaksin virus ini belum ditemukan, sekalipun telah terjadi banyak hal, misalnya keluarnya wacana pemerintah untuk menyambut new normal serta yang terbaru munculnya Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo yang mengorbitkan kalung antivirus berbahan eukaliptus yang kontroversial.

Untuk itu pemuda adat nusantara dalam gerakan pulang kampung melanjutkan tindakan-tindakan konkretnya seperti menanam tanaman pangan.

Jakob Siringoringo

Buku “Menelusuri Jejak Leluhur” Karya BPAN


*MENELUSURI JEJAK LELUHUR*
————————-
• Judul Buku: MENELUSURI JEJAK LELUHUR
• Harga: –
• Penulis: BARISAN PEMUDA ADAT NUSANTARA (BPAN)
• Penerbit:
• Tahun: 2017
• Sinopsis: Buku “Menulusuri Jejak Leluhur” merupakan buku antologi tulisan dari pemuda adat nusantara tentang adat tradisi dan kebudayaannya, terutama aspek yang menyangkut warisan leluhur.

Buku ‘Menulis Minahasa’ Karya Kalfein Wuisan


*MENULIS MINAHASA*
————————-
• Judul Buku: MENULIS MINAHASA
• Harga: –
• Penulis: Kalfein M. Wuisan
• Penerbit: Kumojoyo Press
• Tahun: 2015
• Sinopsis: Buku “Menulis Minahasa” berisi essai dan opini tentang kebudayaan Minahasa. Di dalamnya juga terdapat karya sastra berupa puisi dan beberapa reportase tentang aktivitas gerakan kebudayaan di Minahasa.

Mengolah Kebun, Menjaga Kehidupan

Indra Congregations Piri , seorang pemuda adat asal kampung Ampreng, Minahasa, Sulawesi Utara. Sehari-hari ia menghabiskan waktu mengolah kebun bersama orangtuanya.

Sebagai anak petani ia bangga dan selalu membantu orang tua mengolah kebun.

Indra Piri

Tomat dan Cabai merupakan komoditas yang ditanam di kebun mereka. Selain dua jenis tanaman itu, padi dan mentimun juga menjadi komoditas pilihan yang ditanam para petani di kampung Ampreng.

Di kebun tomat mereka, ada sebuah pondok. Di pondok tersebut ia dan teman-temannya sering berkumpul. Teman-temannya juga kebanyakan anak petani. Mereka sering berkumpul ketika waktu bekerja usai. Pondok di kebun menjadi salah satu tempat mereka berkumpul, selain di rumah Indra.

Indra dan kawan-kawannya sesama pemuda adat

Indra dan teman-temannya memang aktif mengolah kebun. Baik kebun orang tua mereka, maupun kebun yang mereka kelola bersama.

Mereka menggunakan kearifan lokal Minahasa sebagai metode untuk mengolah kebun. Mapalus dan Ru’kup nama kearifan tersebut.

Metode Mapalus dapat terlihat dari upaya mereka saling membantu dan bekerja bersama. Baik saat mengolah kebun orang tua mereka, maupun kebun mereka bersama. Misalnya, apabila salah satu dari mereka membuka kebun atau saat panen di kebun orang tua mereka, para pemuda yang lain datang bersama bekerja, tanpa dibayar. Begitu juga, ketika tiba giliran anggota lain membuka kebun atau panen, orang yang sudah dibantu tersebut membalas dengan ikut mengolah kebun.

Mereka juga menggarap kebun secara bersama. Biasanya, itu kebun milik orang. Hasil dari kebun, kemudian dibagi sama rata kepada setiap yang terlibat dalam mengolah kebun.

Komoditas yang mereka tanam kebanyakan tomat dan cabai. Selain itu, mereka juga pernah menanam labu dan mentimun. Namun, karena area kebun tidak luas, kebanyakan yang ditanam hanya tomat dan cabai.

Tomat dipilih karena sangat bernilai ekonomis. Selain itu, tomat tidak perlu memerlukan lahan yang luas.

Di musim saat harganya baik, Tomat dan Cabai memang menjanjikan. Seperti yang dituturkan Deddy Milanno Sarayar, seorang pemuda Ampreng, sahabatnya Indra. Seperempat hektar kebun Tomat dapat menghasilkan, sekitar 400 kas/peti/bakul tomat. Beratnya sekitar 20kg. Sementara, saat ini harga per kas/peti/bakul, sekitar 400ribu. Sehingga hasil yang didapatkan dalam sekali mengolah 1/4 hektar kebun tomat, sekitar Rp.160.000.000. Setelah dipotong biaya produksi, maka hasil bersih yang didapatkan sekitar 150 juta rupiah. Dalam setahun, bisa maksimal 3 kali menanam tomat. Bisa dihitung keuntungannya.

Selain tomat, cabai juga menjadi pilihan.
Seperempat hektar kebun cabai dapat menghasilkan sekitar 1.000kg. Saat ini harga cabai keriting mencapai Rp.50.000/kg. Sehingga, hasil yang didapatkan dari sekali mengolah kebun cabai, sekitar Rp.50.000.000.

Namun, ketika harga Tomat dan rica anjlok, petani mengalami kerugian.
Bahkan tidak balik modal. Namun, mereka sadar bahwa setiap pekerjaan memiliki resiko.

Upaya para pemuda kampung untuk berkebun yaitu untuk memenuhi kebutuhan dan mengolah tanah supaya tidak ada lahan tidur. Ketika lahan diolah menjadi kebun, berarti proses kehidupan terus berlanjut. Menurut mereka, mengolah kebun berarti menjaga kehidupan.
Mereka percaya bahwa tanah tempat mereka berpijak bisa memberikan kehidupan, di tengah gempuran modernisasi dan menurunnya niat orang untuk berkebun.

Penulis: Kalfein Wuisan

Dampak Pandemi di Barambang Katute

30 Mei 2020


oleh: Khaeruddin


Pandemi masih menyebar bahkan korban terus bertambah diberbagai belahan dunia. Tidak hanya merenggut kebebasan aktivitas, tapi juga merenggut sumber dan pundi-pundi kehidupan termasuk pangan.

Tidak ketinggalan Indonesia menjadi bagian dari itu yang kini korbannya mencapai puluhan ribu.

Selama ada jalan pandemi sigap menyusupi, tidak memilah untuk menyasar ke dalam ruang lingkup Anda, siapa pun anda bersiaplah untuk itu. Tidak tanggung-tanggung Kabupaten Sinjai telah menjadi bagian dari sebaran virus tersebut. Dikutip dari website covid19 sinjai (22 Mei 2020) enam belas orang dinyatakan positif.

Kebijakan para petinggi negeri yang terkesan lamban mengantisipasi jalur alternatif persebaran, membuat seluruh masyarakat harus hidup dipenuhi rasa was was. Satu persatu wilayah merasakan dampak, tidak terkecuali Masyarakat Adat Barambang Katute, Sinjai, Sulawesi-Selatan.

Rasa aman yang dulunya terjamin, secara perlahan memudar. Kebebasan beribadah sontak ditiadakan di berbagai masjid. Jadinya berkah Ramadhan hingga di penghujung terasa berkurang sebab tidak ada lagi buka dan tarawih bersama.

Semerbak penukaran rupiah dengan pangan melalui perdagangan bagai terpenjara. Potret petani sayur hanya mampu berjalan di tempat karena tidak dapat melakukan penjualan. Salah satu contoh, masih tersimpan stok wortel di kebun milik salah satu anggota komunitas, karena jalur pedagang diblokade. Karena alasan menjaga keamanan diri dari pandemi, penadah tidak berani datang mengambil stok. Apalagi himbauan #dirumahaja semakin gencar disuarakan melalui media berita televisi maupun radio.

Penjualan hanya dapat dilakukan di wilayah yang dianggap zona aman. Akibatnya, harga turun secara drastis. Melenceng jauh dari modal penanaman dan tenaga kerja sehingga dapat dipastikan musim ini mengalami kerugian.

Dipenghujung ramadhan ini kebutuhan bahan pokok makanan meningkat. Orang-orang harus ke pasar tradisional untuk memenuhi berbagai bahan kebutuhan dapur. Namun ketika berkunjung ke pasar harga bahan pokok seperti garam, minyak, dan bahan lainnya justru melambung naik dibandingkan sebelum adanya pandemi. Siklus ini tampak terbalik dengan harga yang dipatenkan dari dagangan petani.

Tapi dapur harus tetap mengepul. Lidah yang terlanjur membaur dengan asingnya garam tidak dapat dielak. Kita di gunung tidak memiliki laut untuk menadah kristal putih dan asin itu.

Meski demikian, Masyarakat Adat yang sejatinya petani tetap bercocok tanam untuk memenuhi lumbung pangan mereka.

Mengutip kalimat petuah “aga mutaneng, iyato muruntu” (apa pun yang kamu tanam, itulah yang kamu dapatkan). Maka tidak ada kata menyerah bagi petani. Bersama kucuran keringat, mereka berharap agar pandemi segera berlalu dan negeri kita kembali pulih.

Pandemi mereda adalah impian kita bersama; sebuah harapan yang entah kapan tiba. Kita hanya mampu menutup diri. Mengikuti protokol kesehatan. Memerangi, walau musuh tidak tampak.

PD BPAN Osing Sosialisasikan Hasil Jamnas Ketiga Lewat Rakerda

bpan.aman.or.id, BANYUWANGI – Pengurus Daerah Barisan Pemuda Adat Nusantara (PD BPAN) Osing Banyuwangi melakukan rapat kerja daerah (rakerda) sekaligus melakukan pendidikan kaderisasi untuk anggota baru. Acara tersebut dilaksanakan di Dukuh Kopen Kidul, Desa Glagah, Kabupaten Banyuwangi Sabtu (2/2). Dalam agenda tersebut juga dihadiri oleh Ketua Umum BPAN, Dewan Nasional BPAN dan Ketua PD AMAN Osing Banyuwangi.

Pada rakerda tersebut ada beberapa poin penting dalam program kerja untuk tahun 2019 yang sudah dirumuskan. Diantaranya dalam bidang kewirausahaan, Kaderisasi, Kebudayaan dan agitasi media.

Koordinator kewirausahaan Devi Kristanti mengatakan bahwa pihaknya akan memaksimalkan perekambangan teknologi informasi untuk membantu pemasaran produk para pemuda adat. Sebab menurutnya E-Commerce saat ini menjadi media yang paling efisien dan efektif guna memasarkan produk. Salah satu langkahnya, dia akan bekerja sama beberapa pengusaha dari pemuda adat yang dinilai cukup berhasil dalam menjalankan bisnis yang mengandalkan E-Commerce.

“Kami akan bekerjasama dengan beberapa pelaku usaha, seperti Byek yang pemiliknya juga anggota BPAN,” kata Devi.

Baca juga

Arif Wibowo, Koordinasi Bidang Riset dan Pengembangan mengatakan workshop tersebut akan menghasilkan output visual infogradik sebaran Desa Using Se-Kabupaten banyuwangi. Selain itu workshop itu juga untuk mengklasifiikasikan keragaman ruang budaya Suku Using yang terbagi secara geografis dalam bentuk catatan. Sementara itu bidang riset dan pengembangan, program kerja pada tahun 2019 ini adalah mengadakaan workshop membuat peta wilayah budaya Using Se-Kabupaten Banyuwangi degan pendekatan visual dan etnografi.

“Hasilnya nanti dibagikan kepada publik sebagai bagian dari edukasi tentang sebaran masyarakat Using di Banyuwangi,” Ujar Arif.

Di tempat yang sama Ayu Peratiwi Koordinator Bidang Sosial Budaya mengatakan bahwa ke depan tetap menjadi prioritas karena itu menjadi salah satu identitas pemuda adat yang paling mudah diidentifikasi oleh pihak luar.

Dikatakan Ayu bahwa saat ini semangat anak muda terhadap kesenian masih tinggi. Salah satunya melestarikan budaya pembacaan lontar yusuf yang dijadikan program prioritas. Sebab tradisi pembacaan ini mulai terancam sehingga dibutuhkan regenerasi agar selalu lestari.

Sedangkan  bidang koorganisasian, masing-masing anggota BPAN Osing akan mendapatkan kartu anggota. Program kunjungan kampung ke komunitas juga akan diijalankan dengan tujuan agar meningkatkan keakraban antar anggota serta memperluas kader baru. Selain itu, peningkatan pengetahuan terkait jurnalistik untuk anggota baru akan dijadikan agenda ke depan. Sehingga nantinya kader baru bisa lebih aktif memanfaatkan media sosial untuk ajang pergerakan dalam memperluas organisasi.

Pada kesempatan itu , PD BPAN Osing juga melakukan proses peralihan jabatan pengurus 2017-2020. Dari yang sebelumnya Ketua Kezia Fitriani, Slamet Ichlasul Amal selaku Sekretaris, dan Indah Pratiwi Bendahara. Hal itu, dilakukan karena dari beberapa mereka sedang merangkap dua jabatan strategis di PD AMAN agar memaksimalkan berjaalannya organisasi.

Adapun Ketua pejabat sementara PD BPAN Osing yang terpilih yakni Ilham Syaifullah, sekretaris Ayu Perwitasari, dan Zessy Irama selaku bendahara. Mereka akan menjabat satu tahun kedepan atau sampai periode 2017-2020 berakhir.

“Saya mengucapkan terimakasih kepada Mba Kezia Fitriani yang sudah memimpin PD BPAN Osing selama ini, dan saya akan melaksanakan mandat ini sampai tahun depan, saya harap kawan-kawan tetap mendukung dan mengingatkan saya saya bisa ebih baik,” harap Ilham.

 

Penulis: Abar Wijaya, anggota BPAN Osing

Mahasiswa IAIM Diberhentikan Akibat Kritik Kebijakan Kampus

Bpan.aman.or.id SINJAI – Tujuan pendidikan ialah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana tertuang dalam konstitusi. Namun realisasi dari amanat Undang-Undang Dasar 1945 tersebut terbilang masih sangat lemah, terutama pada perguruan tinggi. Senin, (28/1/2019).

Salah satu contohnya seperti yang dialami salah satu Mahasiswa Institut Agama Islam Muhammadiyah (IAIM) Sinjai, Sulawesi Selatan.

Nuralamsyah adalah salah satu Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Hukum Islam (FEHI). Dia diberhentikan secara tidak terhormat atau Dro Out (DO) lantaran diduga karna aksi protesnya atas kebijakan kampus yang dinilai tidak berpihak kepada Mahasiswa, pada Selasa, (15/1/2019) lalu.

Alam sapaan akrabnya, memprotes kebijakan kampusnya yakni pembayaran kartu ujian yang dinilai terlalu mahal dan tidak transparan. Dengan nominal Rp.80.000 rupiah, menurut Alam adalah terlalu mahal.

Sehingga ia beserta beberapa rekannya protes dengan melakukan aksi di halaman kampusnya. Karena protes lalu di DO, menurut Alam, adalah tindakan yang sungguh tidak masuk akal.

“Kami aksi menuntut pembayaran kartu ujian yang terlalu mahal dan menuntut transparansi pengelolahan anggaran kampus IAIM Sinjai,”terangnya.

Selain itu, ia mengaku tidak ada teguran lisan dan tertulis yang dijatuhkan kepadanya.

“Tidak ada teguran lisan apalagi tertulis, itu tidak ada, tiba-tiba saja dikeluarkan surat yang berisi surat keputusan pemberhentian kepada saya, saya menduga hanya karena persoalan aksi menyampaikan aspirasi menuntut persoalan anggran yang tidak transparan dan pembayaran kartu ujian yang terlalu mahal,” Pungkasnya.

Sampai berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi dari pihak Kampus IAIM Sinjai.

DDK PB- AMAN Tularkan Kemampuan Menulis Pemuda Lewat Pelatihan Jurnalis

Bpan.aman.or.id RIAU – Direktorat Dukungan Komunitas dari Pengurus Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (PB-AMAN) dan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia Pekanbaru (YLBHI-red) tularkan kemampuan menulis pemuda adat talang mamak lewat pelatihan pendokumentasian data sosial  dengan penggunaan aplikasi AMAN apps. Acara tersebut berlangsung selama dua hari dari tanggal 21-22 Januari 2019.

Direktorat Dukungan Komunitas (DKK) dari Pengurus Besar Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (PB-AMAN) Annas Radin Syarif menjelaskan tentang teknik menululis berita yang tidak rumit dan mudah dipahami oleh si penulis maupun orang lain (pembaca), menurut Anas sebelum orang lain memahami yang akan kita tulis, tentunya penulis (kita) harus juga paham.

“Kita bisa memulai menulis dengan kehidupan sehari-hari di komunitas adat di talang mamak atau dengan sejarah masayarakat adat, nanti didokumentasikan di Aplikasi AMAN Apps,”terang Annas.

Baca juga : BPAN Inhu Teruskan Menelusuri Jejak Leluhur

Selain itu, Annas juga menerangkan tentang proses penggabungan audio, fhoto dan video lewat handphone android dengan menggunakan aplikasi AMAN Apps. Annas mengatakan aplikasi AMAN Apps merupakan aplikasi yang dibuat untuk masyarakat adat.”Agar isu dan masalah sosial di masyarakat adat bisa terpublikasikan terutama tentang tanah,”tutur Annas.

  
Menurut pria berbadan besar itu anak muda di talang makak juga bisa membuat website sendiri atau website oraganisasi BPAN. Menurutnya lewat website atau aplikasi AMAN Apps pemuda adat bisa mempromosikan produk usaha lokal di komunitas atau profil komunitas.

“Mumpung belajar dan menulis ini gratis, kita manfaatkan itu untuk kepentingan masyarakat adat di sini.”ucap Annas.

Selain Annas, turut hadir juga ketua Pengurus Daerah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (PD-AMAN) indragirihulu Gilung dan Farid Wadji dari PB AMAN yang juga ikut menjelaskan tentang cara menggunakan aplikasi AMAN Apps.

Penulis : Suher

 

KONTAK KAMI

Sekretariat Jln. Sempur 58, Bogor
bpan@aman.or.id
en_USEnglish