Gerakan Kedaulatan Pangan dari Talang Mamak Simarantihan

bpan.aman.or.id – Di tengah ancaman krisis pangan, Pemuda Adat Talang Mamak Simarantihan sedang sibuk mengelola wilayah adat untuk memastikan kedaulatan pangan mereka tetap terjaga. Mereka menanam sayuran hingga umbi-umbian. Hasilnya sebagian dibagikan kepada warga kampung dan sebagian lainnya mereka jual ke pasar.

Dari penghasilan tersebut, mereka berhasil memasok kebutuhan pangan kampung sekaligus menciptakan kemandirian Pemuda Adat Talang Mamak Simarantihan.

Gerakan kedaulatan pangan yang digalakkan pemudi/a adat ini tidak terlepas dari dukungan penuh para Batin atau tetua adat. Para Batin memandatkan mereka untuk mengelola 1 hektar wilayah adat secara kolektif. Ada 10 Pemuda Adat yang mengelola ladang dengan beragam ide dan kreatifitas masing-masing. Salah satunya Iqbal.

Selain mengelola ladang, mereka juga membuat pondok sebagai tempat mereka melepas penat, bersenda gurau sekaligus sebagai tempat mereka berbual-bual (berdiskusi).

Sedang panen

 “Talang artinya ladang, Mamak artinya Ibu. Sejak dulu para tetua kami sudah berkebun. Tradisi itu yang kami rawat hingga saat ini. Mau covid ataupun tidak covid kami tetap berkebun,” ungkap Iqbal, Pemuda Adat Simarantihan, Desa Suo-Suo, Tebo, Jambi, Sabtu (12/9/2020)

Iqbal dengan riang berkebun bersama teman-temannya. Baginya, mengelola wilayah adat adalah ruang belajar yang menyenangkan. Ia dapat memahami sejarah leluhurnya hingga dapat menjadi sumber pendapatan ekonomi sehari-hari.

“Saya bisa belajar sekaligus mencari uang dengan berkebun. Wilayah adat adalah lapangan pekerjaan saya,” tambah Iqbal.

Pemuda Adat Talang Mamak Simarantihan membuktikan bahwa wilayah adat sebagai sentra produksi dan lumbung pangan mampu menyelamatkan warga Masyarakat Adat dari ancaman krisis pangan di tengah pandemi Covid-19 bahkan menyelamatkan bangsa dan negara. Masyarakat Adat tidak hanya memiliki kemampuan untuk memenuhi pangannya secara mandiri, tetapi mampu berbagi dengan komunitas-komunitas lain, bahkan ke kota-kota.

Sebelumnya, Wilayah Adat mereka terus dirampas oleh perusahaan sawit berskala besar. Apalagi hingga saat ini tak kunjung hadir peraturan daerah (perda) yang mengakui dan melindungi hak Masyarakat Adat Talang Mamak Simarantihan. Kondisi itu membuat perekonomian tak stabil, wilayah adat tempat mereka menggantungkan kehidupan dirampas secara sepihak oleh perusahaan.

Ladang yang baru dibersihkan

Hal tersebut berimplikasi terhadap banyak hal; selain dampak ekonomi, sebanyak 57 Pemuda Adat Talang Mamak Simarantihan berprofesi sebagai petani sawit karena kehilangan wilayah adatnya dan ada pula yang masih menganggur. Sebagian dari mereka memilih untuk meninggalkan kampung untuk memperbaiki taraf hidup di kota-kota besar.

Namun kini, gerakan kedaulatan pangan selain dapat memperkuat resiliensi kampung di tengah pandemi, juga dapat menjadi media konsolidasi untuk ‘memanggil kembali’ Pemuda Adat untuk pulang kampung mengurus dan mengelola wilayah adat serta dapat membuka lapangan pekerjaan bagi Pemuda Adat tanpa bergantung dengan kehadiran perusahaan.

Yayan Hidayat, pemuda adat Suo Suo, Tebo, Jambi

Maka’aruyen, Floit Dobol, dan Ber-Minahasa dari Rumah

Ia datang memakai Susu’unan dan berseragam SMP.

Waktu itu, ia sempat menjadi pusat perhatian saat tiba di kampus. Gayanya yang khas dan tidak biasa ini, membuat ia menjadi daya tarik tersendiri bagi siapa saja yang melihatnya.

Orang memakai Susu’unan atau ikat kepala khas Minahasa, sekarang ini, memang agak biasa terlihat di kampus. Apalagi di kampus yang memiliki Sanggar Seni Budaya. Mahasiswa, anggota sanggar, memakai ini saat ada kegiatan iven budaya di kampus. Namun apabila ada anak berseragam Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan memakai Susu’unan di kampus, itu menjadi hal menarik.

Anak SMP ini, namanya Joy Manuwu.

Saat tiba di kampus Fakultas Teknik (Fatek) Universitas Negeri Manado (UNIMA), Joy bersama kakaknya, Manuwu Rival. Mereka menyempatkan bertamu ke Sekretariat Sanggar Seni Budaya Manguni Fatek Unima, usai mengikuti lomba di Tondano. Pada 31 Oktober 2019, Joy mewakili sekolahnya mengikuti lomba bintang vokalia tingkat SMP se-Kabupaten Minahasa. Ia seorang siswa kelas 2 SMP Advent Tanawangko. Usianya masih 13 tahun.Hari itu Joy menjadi satu-satunya peserta lomba yang tampil beda. Selain cara berbusana yang khas, ia menjadi peserta penyanyi solo yang menampilkan musik tradisi Minahasa, Maka’aruyen. Ia bernyanyi sambil diiringi petikan khas Maka’aruyen. Lagu Opo Wananatase, dibawakannya sambil diiringi petikan Maka’aruyen oleh kakaknya. Sebenarnya, ia akan bernyanyi sekaligus bermain Maka’aruyen. Namun karena demam panggung, ia meminta Rival mengiringinya.

“Qt kw’ ja kase latih pa dia”, ucap kakaknya, Rival.

Rupanya, Rival menjadi sosok penting yang membuat Joy mencintai Maka’aruyen. Ia menjadi guru bagi adiknya. Mengenalkan sejak dini seni tradisi Minahasa, baik praktik maupun nilainya. Rival aktif belajar dan melanjutkan seni tradisi Maka’aruyen. Ia juga sering menampilkan Maka’aruyen dalam peribadatan gereja, bersama keluarganya. Selain aktif menggiatkan seni tradisi Maka’aruyen, Rival aktif menjadi pegiat budaya Minahasa. Ia juga seorang pemain Kawarasan.

Selain bernyanyi, Joy dalam lomba tersebut, sesekali melakukan hal yang juga kini menjadi ciri khas Maka’aruyen yaitu bersiul ganda (Floit Dobol). Floit Dobol adalah nada siulan beruntun yang terdengar harmoni. Bunyinya seperti kicauan burung yang sedang bernyanyi. Orang yang melakukan ini, menggunakan teknik tersendiri. Biasanya ia harus latihan selama beberapa waktu untuk menguasai teknik bersiul ini. Seorang, etnomusikolog asal Amerika, Palmer Keen, saat berkunjung dan meneliti tentang Kalelon Maka’aruyen di Minahasa, juga terpukau dengan teknik Floit Dobol. Setelah berkeliling dan melakukan penelitian tentang musik tradisi dan musik etnik di Nusantara, menurutnya, ia baru menjumpai hal seperti ini di Minahasa. Itu yang membuatnya makin tertarik dengan Maka’aruyen. Saat di Minahasa, ia begitu tertarik mendokumentasikan seniman Maka’aruyen yang bisa Floit Dobol.

Teknik floit dobol, dipelajari Joy dari kakaknya. Menurut Joy, tidak susah untuk melakukannya. Namun, menurutnya memang membutuhkan konsentrasi dan penghayatan yang tinggi saat bernyanyi, bermain Maka’aruyen, dan Bafloit Dobol di saat bersamaan.

Di sisi lain, ‌Rival Manuwu, kakaknya, punya pengalaman sendiri belajar teknik Floit Dobol. Menurutnya, teknik floit dobol Maka’aruyen merupakan gabungan dari teknik bersiul dengan posisi lidah ke bawah dan ke atas. Ternyata, Rival belum lama mempelajari teknik ini. Baru sekitar dua bulan, sejak Agustus 2019. Rival, mempelajari teknik ini dari orang Tincep, Sonder Minahasa.

Rival ternyata memang sangat cocok menjadi seorang guru. Buktinya, saat berdialog dengan anak-anak Sanggar Manguni Fatek, ia juga sempat berbagi beberapa teknik bermain Maka’aruyen dan Floit Dobol.

Semangat dan usahanya ini perlu ditiru banyak generasi muda Minahasa.

Memang, Maka’aruyen sendiri, perkembangannya dinamis. Awalnya ia adalah syair-syair doa. Syair tersebut juga ditampilkan dengan alat musik tradisional Minahasa yang disebut Swasa. Ia awalnya berada di dalam ruang yang terbatas, privat, dan sakral. Namun di kemudian hari ia bertransformasi dan menemukan titik temu dengan alat musik modern, gitar. Kalelon Maka’aruyen, menjadi penanda zaman dan penanda ingatan perjumpaan orang Minahasa dengan orang barat. Di kemudian hari ia juga dipadukan dengan alat musik lain, misal siulan, kolintang besi, dan lain sebagainya. Di era kekinian, Kalelon Maka’aruyen oleh para seniman dan budayawan Minahasa juga sering ditampilkan dan dipadukan dengan genre musik modern. Ia ditampilkan dan dikolaborasikan dengan musik Rap, Blues, Hip Rock, Reggae, dan lain sebagainya. Artinya, Kalelon Maka’aruyen terus bertransformasi dan berdialog dengan zaman dimana ia dihadirkan.

Di Minahasa sendiri, telah dan sedang terjadi kebangkitan kesadaran kultural yang banyak dipelopori oleh orang ‘muda’. Di kampung-kampung dan kampus-kampus, banyak bermunculan komunitas pegiat adat, seni budaya Minahasa. Salah satu contohnya yaitu semangat Mawale atau semangat kembali ke rumah, ke kampung. Ini termanifestasi dalam jaringan gerakan kebudayaan Mawale Movement.

Gerakan untuk menelusuri, mendokumentasikan, dan mengkaji seni tradisi Kalelon Maka’aruyen juga menjadi bagian dari gerakan ini. Maka di tahun 2011, muncul komunitas yang bernama Kalelon Maka’aruyen (Kama). Gerakan ini kemudian mengajak dan mempengaruhi banyak orang muda untuk menggali nilai-nilai tradisi Kalelon Maka’aruyen yang relevan dan bisa dikontekstualisasikan di hidup hari ini. Proses berpengetahuan dari pintu musik tradisi Maka’aruyen menjadi satu contoh. Masih banyak pintu dan cara lain untuk ber-Minahasa.

Pemuda adat, Joy dan Rival adalah salah satu contoh. Mereka menjadikan rumah sebagai ruang berpengetahuan. Menjadikan anggota keluarga sebagai guru dan teman belajar. Mereka menjadi bukti bahwa cara berpengetahuan ala Masyarakat Adat Minahasa masih efektif sampai hari ini. Pengetahuan keluarga atau berpengetahuan dari – di keluarga. Keluarga menjadi sekolah. Keluarga menjadi tempat belajar pertama seorang anak Minahasa. Sebelum, mungkin, ia mengecap pendidikan formal karena tuntutan. Nenek, Kakek, Ayah, Ibu, Kakak, Adik, dan orang di dalam rumah menjadi guru. Masyarakat, Kampung, dan alam semesta menjadi guru dan tempat belajar yang lebih luas. Cara berpengetahuan seperti ini memang mesti dilirik kembali. Ber-Minahasa dari rumah, dengan keluarga. Metode ini sangat cocok diterapkan, apalagi di masa pandemi seperti ini. Berpengetahuan dari rumah, dengan keluarga.

Penulis: Kalfein Wuisan

AMAN Indragiri Hulu Kukuhkan Kader Pemula Bersama BPAN Inhu

‘’Disirakan ke bumi dibindangkan ke langit’’ ucap Iskandar penuh semangat.

Ia memotivasi para Kader Pemula yang sedang mendengar sambutannya.

Pak Iskandar adalah seorang Batin atau Pemimpin Adat di Luak (komunitas adat) Penangki, salah satu komunitas adat anggota Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), di Kabupaten Indragiri Hulu, Riau. Batin Iskandar, kini berusia 75 tahun. Selain sebagai Batin, ia juga adalah Ketua Dewan AMAN Daerah (DAMANDA) Indragiri Hulu. Beliau sudah dua periode menjadi ketua DAMANDA. Ia juga merupakan salah satu pendiri AMAN pada tahun 1999.

Ucapannya itu, dalam Bahasa Talang Mamak, berarti memberitahukan kepada orang banyak, baik secara nyata maupun gaib, bahwa yang dilakukan sudah terlaksana atau sah. Ini disampaikannya saat memberi sambutan di acara Pelantikan Kader Pemula AMAN Daerah Indragiri Hulu.

Acara pelantikan Kader Pemula AMAN Daerah Indragiri Hulu dilaksanakan pada Minggu, 19 Juli 2020, di Komunitas Adat Suku Ampang Delapan. Hutan Adat Durian Sirawang, di dekat Makam Diah, menjadi lokasi diselenggarakannya acara bersejarah tersebut. Kegiatan ini merupakan puncak dari rangkaian acara yang sudah berlangsung sejak hari Sabtu, 18 Juli 2020.

Menurut, Jakob Siringoringo, Ketua Umum Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN), Kader Pemula merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut individu yang ada di komunitas adat anggota AMAN.

“Ada tiga syarat yang harus dipenuhi untuk dikukuhkan sebagai Kader Pemula. Pertama, individu tersebut berasal dari komunitas adat anggota AMAN. Kedua, direkomendasi oleh komunitas, dilatih atau dipersiapkan oleh Pengurus Daerah dalam suatu rangkaian kegiatan Pendidikan Kader Pemula. Kemudian ketiga, setelah rangkaian Pendidikan Kader dipenuhi kemudian dilanjutkan dengan pengukuhan Kader Pemula AMAN”, ungkap Jakob.

Ditambahkannya pula, bahwa ada 4 kategori/macam Kader di AMAN.

“Kader Pemula itu sebenarnya urusan Pengurus Daerah, Kader Penggerak urusan Pengurus Wilayah, Kader Pemimpin urusan Pengurus Besar, sedangkan Kader Utama adalah dengan kriteria tertentu, misalnya, sudah terbukti selama 15 tahun secara terus menerus mendukung gerakan AMAN,” tambahnya.

Acara ini dihadiri oleh 13 orang yang akan dikukuhkan sebagai Kader Pemula AMAN. Sebagian di antaranya merupakan pemuda adat. Mereka ini merupakan penerus masa depan Masyarakat Adat. Selain itu, hadir juga para Batin, Pengurus AMAN Daerah Indragiri Hulu, Masyarakat Adat, dan para undangan. Ibu-ibu, perempuan adat, juga nampak hadir dan sibuk menyukseskan acara. Kegiatan ini, diselengarakan menggunakan tata cara dan kearifan lokal Masyarakat Adat setempat.

Sekitar pukul 10.00 WIB kegiatan pengukuhan dimulai. Ritual adat menjadi awal acara. Kebiasan memulai acara dengan ritual adat memang menjadi aspek penting dalam semua aktivitas Masyarakat Adat. Menurut Supriadi Tongka, pemuda adat anggota BPAN Indragiri Hulu, ritual tersebut namanya Pogi bapadah balik bakoba.

“Tujuan ritual ini yaitu untuk memberi tahu leluhur yang ada di hutan itu bahwa kita berkunjung dan melakukan kegiatan di hutan adat tersebut”, tutur Supriadi.

Usai ritual, acara kemudian dilanjutkan sesuai susunan yang sudah dibuat. Pembukaan acara, disampaikan oleh Bunitz Shaputra. Selanjutnya semua yang hadir menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars AMAN. Setelah itu dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua DAMANDA dan Ketua BPH AMAN Indragiri Hulu.

Dalam sambutannya, Pak Iskandar, selaku Ketua DAMANDA memberikan nasehat dan pesan motivasi. Ia menyampaikan bahwa semangat juangnya masih menggebu-gebu seperti anak muda, meski usianya sudah lanjut. Ia masih tetap berkomitmen untuk berjuang mempertahankan wilayah adat meskipun banyak ancaman dari perusahaan dan preman bayaran. Oleh karena itu, ia menyampaikan kepada para Kader Pemula yang dikukuhkan bahwa yang dilakukan ini telah disirakan ke bumi dibindangkan ke langit. Ia juga berharap bahwa semangat mereka memperjuangkan wilayah adat, harus melebihi semangatnya.

”Jangan pernah menyerah memperjuangkaan wilayah adat, karena masa depan Talang Mamak ada pada tangan kalian”, tegas Batin Iskandar.

Di kesempatan yang sama, Gilung selaku Ketua Badan Pengurus Harian (BPH) AMAN Daerah Indragiri Hulu turut memberikan sambutannya. Ia berpesan kepada kader yang sudah dikukuhkan untuk lebih banyak berkerja di komunitas membantu Batinnya dalam mengurus adat, menggali sejarah, budaya, tradisi, dan kearifan lokal.

Sebelum acara puncak pengukuhan, Ketua DAMANDA Pak Iskandar, memberikan kartu kader kepada Kader Pemula yang ada. Dalam acara pengukuhan, para Kader Pemula mengucapkan Sumpah Adat sebagai ungkapan komitmen mereka menjadi kader AMAN dan menjadi penjaga adat budaya, serta ikut serta berjuang dalam perjuangan Masyarakat Adat. Pengukuhan ini dipimpin oleh Pak Irasan selaku Batin Talang Parit.

Mereka juga turut mengucapkan Janji AMAN sebagai ungkapan komitmen terhadap organisasi AMAN dan kesediannya untuk turut berjuang bersama AMAN. Ketua BPH AMAN Daerah Indragiri Hulu, Gilung, memimpin sesi ini.

Dalam kegiatan tersebut, turut hadir juga para anggota BPAN Daerah Indragiri Hulu. Salah satunya, Supriadi Tongka, pengurus BPAN Indragiri Hulu yang menangani Bidang Pengorganisasian. Ia menyampaikan bahwa dengan dikukuhkannya para Kader Pemula berarti bertambah lagi orang untuk berjuang bersama Masyarakat Adat. Menurutnya, ini berarti akan semakin banyak orang, terutama pemuda adat, yang akan berjuang bersama AMAN dan Masyarakat Adat, misalnya dengan mendesak pemerintah untuk segera mengesahkan RUU Masyarakat Adat.

“Sangat penting RUU Masyarakat Adat disahkan, karena undang-undang inilah yang akan melindungi Masyarakat Adat atas ancaman kriminalisasi dan perampasan wilayah adat di pelosok nusantara ini. Belum lagi sikap pemerintah yang memberi karpet merah kepada investor. Karena itu, perlu ada undang-undang yang melindungi Masyarakat Adat atas hak-hak yang sudah melekat kepada Masyarakat Adat sejak dahulu”, jelasnya.

Acara pengukuhan Kader Pemula diakhiri dengan doa dan acara makan bersama. Lalu Sesi foto bersama menjadi acara yang paling akhir. *

 

Kalfein Wuisan

Pentingnya Jonga bagi Masyarakat Adat Hukaea Laea, Suku Moronene, Sulawesi Tenggara

bpan.aman.or.id – Jonga adalah rusa dalam bahasa Moronene. Dulu, satwa ini merupakan penghuni utama kawasan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW). Setiap kali melintasi jalan poros di kawasan konservasi tersebut, perbatasan Kabupaten Bombana dan Konawe Selatan, kita biasa melihat kawanan rusa memunculkan kepala mereka dari balik padang ilalang. Bahkan tidak jarang kawanan rusa ditemukan sedang bermain atau melintas di jalan.

Pada masa itu boleh dikatakan bahwa jonga merupakan primadona di wilayah adat Hukaea Laea, yang berada di dalam kawasan TNRAW.

Hampir di setiap rumah penduduk terdapat tanduk rusa yang menghiasi dinding rumahnya, sebab tanduk jonga merupakan hiasan terbaik kala itu bagi orang Moronene Hukaea Laea, Kabupaten Bomabana.

Bila mana ada tamu datang dari luar daerah, masyarakat seringkali memberi oleh-oleh tanduk jonga bahkan jonga yang masih hidup.

Saya masih ingat sewaktu kelas 4 SD tahun 2005 dan masih berumur 10 tahun, ayah mengajak saya naik gunung. Waktu itu ayah masih Pu’u Tobu (kepala kampung) Hukaea laea.

Suatu pagi, kami berangkat menuju kaki Gunung Taunaula yang berada di bagian barat wilayah adat Hukaea Laea untuk melihat cara memburu jonga seperti yang dilakukan oleh leluhur kami secara turun-temurun, dan masih kami pertahankan hingga saat ini.

Pada saat itu, saya melihat jonga begitu banyak sedang berjalan berkelompok di hamparan savana yang luas, sembari memakan alang-alang muda yang tumbuh di savana.

Jonga atau rusa bertanduk panjang

Tetapi seiring waktu terus berputar dan tahun demi tahun berlalu, keindahan yang terlihat hari itu, kini hanya menjadi kenangan. Itulah terakhir kalinya saya melihat jonga-jonga yang besar-besar dan bertanduk panjang sebanyak itu.

Sebab para pemburu liar datang dan menyusup ke wilayah adat kami, lalu menjarah semua hewan buruan yang ada, bahkan membakar alang-alang di savana yang luas itu.

Bukan itu saja, mereka juga sering kali merusak dan menebang tanaman obat yang ada di dalam hutan yang dibutuhkan oleh warga kampung untuk menyembuhkan orang yang sakit.

Sejak itu, habitat jonga pun terancam karena sering diburu secara liar dan serampangan. Populasi jonga nyaris punah di wilayah adat Masyarakat Adat Hukaea Laea. Padahal sudah bertahun-tahun para leluhur Suku Moronene mbue-mbue periou (orang dulu) menjaga kelestarian alam beserta satwa yang ada di dalamnya.

Karena alamlah yang memberi mereka kehidupan, maka pantas pula alam untuk dijaga, dan lindungi serta dilestarikan.

Mereka punya tata cara atau kearifan lokal yang harus dipatuhi. Contohnya mereka hanya membolehkan berburu pada waktu-waktu tertentu dan sangat melarang keras memburu jonga betina yang sedang bunting apalagi membunuhnya.

Tidak lupa pula, Masyarakat Adat mempunyai hukum adat yang wajib dipatuhi serta ditaati di kampung tersebut.

Ketika melanggar hukum adat tersebut, maka si pemburu akan diberikan sanksi sosial yang harus di patuhi. Contoh sanksinya yaitu minimal membersihkan seluruh balai adat atau membayar denda.

Ada yang menganggap bahwa sebagian besar jonga-jonga itu menghilang secara gaib. Ada juga yang menganggap jonga-jonga tersebut nekat menyeberang laut ke arah pulau Muna demi menjaga kelangsungan hidupnya.

Walaupun populasinya hampir punah, Masyarakat Adat masih tetap berburu. Sekalipun harus bermalam-malam tinggal di hutan, mereka akan lakoni demi mendapatkan jonga untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari keluarganya.

Ketika hewan buruan yang diburu masih hidup, maka akan dijadikan hewan piaraan dan dirawat hingga beranak pinak.

 

Juminal Noviansyah, Pemuda Adat Moronene, anggota BPAN

Jalani Masa Pandemi, Pemuda Adat Rakyat Penunggu Bercocok Tanam dan Beternak

bpan.aman.or.id – Coronavirus disease atau yang biasa disebut COVID-19, menurut WHO, telah tersebar di 213 negara. Di Indonesia sendiri, pemerintah melalui gugus tugas percepatan penanganan COVID-19 (Gugus Tugas Nasional) mencatat penambahan kasus terkonfirmasi positif COVID-19 per 16 Juli mencapai 81.668 dan pasien meninggal sebanyak 3.873.

Hal tersebut menjadi konsen besar bangsa Indonesia karena permasalahan yang terus ditimbulkannya. Berbagai dampak terjadi mulai dari tingkat kematian meningkat, pemecatan pekerja, dan kesulitan ekonomi yang terjadi disemua kalangan mulai dari pengusaha kaya, sampai rakyat kecil, tidak terkecuali Masyarakat Adat.

Masyarakat Adat dalam sejarah telah berulang kali mengalami wabah penyakit dalam skala besar yang mengakibatkan berkurangnya penduduk. Victoria Tauli-Corpuz, pelapor khusus PBB untuk isu-isu Masyarakat Adat menjelaskan “Masyarakat Adat termasuk di antara mereka yang sangat rentan terhadap COVID-19 karena berbagai faktor. Ketika mereka berada di daerah perkotaan beberapa dari mereka biasanya berada dalam perekonomian informal dan merupakan pekerja rumah tangga yang membuat mereka rentan terhadap dislokasi ekonomi dan infeksi.”

Meskipun demikian, Masyarakat Adat justru memperlihatkan berbagai keunggulan dalam menghadapi pandemi ini seperti dalam mengelola pangan, kesehatan dan peran sosial.

Banyak hal yang dilakukan oleh Masyarakat Adat khususnya kami pemuda adat dalam mengelola wilayah adat agar dapat bertahan di tengah wabah pandemi ini.

Berbagai kegiatan produktif dilakukan oleh pemuda adat. Contohnya kami pemuda adat Rakyat Penunggu Sumatera Utara. Untuk mengisi waktu kosong dimasa pandemi, kami memanfaatkan fasilitas yang tersedia seperti tanah yang ada lantas kami kelola dan tanami.

Angga

Salah satu dari kami yaitu Angga pemuda adat Kampong Bandar Setia selama pandemi ini menghabiskan waktu untuk beternak kambing. Saat ini puluhan kambing ternakannya sudah mulai besar-besar. Dalam beberapa bulan ke depan, ia sudah bisa panen, mulai dari susu sampai daging.

“Saya sendiri bahkan secara sambilan berternak kambing. Untuk beternak kambing cukup memanfaatkan rumput-rumput di sekitar sebagai pakannya dan mengangon kambing juga sebuah kegiatan agar tubuh bergerak. Jadi seperti berolahraga,” kata Angga.

Kami menanam bayam, kemangi dan ubi dan buah-buahan, serta juga beternak kambing. COVID-19 tidak mengurangi semangat pemuda adat untuk terus melakukan kegiatan yang positif sembari mengikuti protokol kesehatan sesuai anjuran pemerintah.

 

Afni Afifah Harahap

Pemudi adat Rakyat Penunggu, Sampali & anggota BPAN Daerah Deli, Sumut

Pekik Sunyi Rusa Padang Ilalang

bpan.aman.or.id – Jika kita memandang ke arah selatan dari puncak bukit itu, maka kita akan melihat kelap kelip cahaya lampu dari sebuah kota. Jika ke arah utara, akan tampak siluet gunung-gunung tinggi yang puncaknya nyaris menyentuh awan. Begitulah pemandangan yang kami saksikan malam itu. Di tengah terpaan cahaya bulan purnama, dari puncak bukit Horouwe yang ditumbuhi banyak ilalang.

Saat itu kami bermil-mil jauhnya dari hiruk-pikuk kehidupan manusia. Di sana tak ada suara klakson kendaraan yang bersahutan di perempatan atau lalu-lalang kendaraan besar yang berat muatannya dapat menghancurkan jalan beraspal. Kami hanya ditemani langit malam dan suara siulan yang menyentuh gendang telinga ketika angin berembus. Selain itu hanya terdengar suara Berese ketika sedang menuturkan cerita-cerita.

Berese adalah seorang pemuda yang sangat suka bercerita. Dari bibirnya yang keunguan acap kali terdengar kisah-kisah. Padaku, ia telah meriwayatkan pengalamannya mengunjungi kota, dan tentang adiknya yang sedang bersekolah. Namun, tak sekalipun aku mendengarnya bercerita tentang seorang wanita yang menjadi pujaan hatinya. Aku pun tak ingin menanyakan perihal itu kepadanya.

Malam itu, ketika rembulan tepat berada di atas kepala kami berdua dan dingin udara tiba bersama angin yang berembus perlahan, aku melihat Berese memandang lekat ke arah ilalang yang berada di bawah bukit itu. Sesaat setelahnya, aku pun melakukan hal yang sama. Kemudian mataku segera melihat hamparan ilalang membentang dalam terpaan sinar cahaya rembulan.

Aku segera mematikan senter yang menjadi satu-satunya penerangan. Kami tak ada membuat api. Sebab sedikit saja kelalaian yang bisa kami lakukan, dapat berakibat buruk pada kawasan itu. Untuk makan kami membawa cukup perbekalan berupa sekantong roti dan sekaleng susu kental manis. Tak lupa pula sebotol air mineral dan setermos air panas untuk membuat kopi jika sewaktu-waktu kami membutuhkannya.

Tak lama setelah lampu senter itu padam dan hanya menyisakan cahaya rembulan sebagai penerangan kami satu-satunya, Berese terlihat mengangkat salah satu tangannya dan menunjuk ke arah hamparan ilalang itu seraya berucap, “Dahulu, ada seekor rusa yang terkapar tak berdaya di sana.”

Aku memandang ke arah yang ditunjukkan Berese dengan jarinya. Di kepalaku terbayang seekor rusa dengan bulu berwarna cokelat serta paduan bulu berwarna putih di bagian perutnya, sedang terbaring dalam keadaan tak bernyawa dan tanduknya tertancap di tanah.

Sesaat kemudian aku bertanya, “Kapan itu terjadi?”

Ia lalu menjawab, “Sekitar enam tahun yang lalu.”

Aku bergeming. Merasakan sepoi angin yang perlahan membelai wajahku, mengantar hawa dingin menyentuh kulitku. Di langit, bulan purnama terlihat utuh tanpa sehelai awan pun menghalangi sinarnya. Sementara di kejauhan, kelap-kelip lampu dari kota kecil itu masih terus bersinar.

Dan setelah beberapa saat terdiam menatap ilalang itu, Berese akhirnya berkata, “Ayahku menceritakan kisah itu padaku: tentang mengapa rusa itu bisa terkapar di sana.” Ia menghela napas, lalu kemudian melanjutkan, “Saat itu, wajah ayahku terlihat sangat ketakutan. Ia tak henti-hentinya berkata ‘ini pertanda buruk!’ Hingga aku, mau tak mau, akhirnya tertular akan rasa takut itu.”

Ayahnya menuturkan bahwa ketika sedang berada di dalam hutan, ia mendengar sebuah ledakan tak jauh dari tempatnya sedang mencari rotan. Saat itu praktik berburu hewan memang sangat gencar dilakukan di sekitar wilayah kampungnya. Motifnya pun beragam; dari sekadar untuk memuaskan hobi, dan bahkan untuk diperdagangkan.

Hampir setiap hari pada tahun-tahun itu, banyak orang dari luar kampung mereka yang datang untuk berburu rusa. Dan orang-orang itu melakukannya tanpa izin. Seakan penduduk kampung yang mendiami kawasan itu tak pernah berada di sana. “Padahal, mereka itu memiliki mata. Tapi mereka tidak ingin melihat dan lalu menghargai,” Berese menambahkan.

Suara senapan itu berhasil mengusik pekerjaan ayahnya. Dan setelah rotan yang ia butuhkan untuk membuat sebuah kursi dirasa cukup, ia lalu pergi untuk mencari tahu di mana sumber suara itu. Rotannya ia tinggalkan di tepi jalan yang akan dilaluinya ketika pulang.

Selama perjalanannya menyusuri hutan, ayah Berese tak mendengar suatu keributan apa pun. Ia berpikir, “Orang-orang itu mungkin telah menemukan apa yang mereka cari.” Namun setelah beberapa lama, ia kemudian mendapati sebuah mobil bak sedang terparkir dengan ranting-ranting pohon yang menyelimutinya. Dedaunan yang melekat di ranting itu terlihat layu. Dan jika tujuan orang-orang itu untuk meninggalkan jejak, ayah Berese berpendapat, “Lebih baik jika mereka mempelajari mantra untuk menghilangkan atau menyembunyikan sesuatu.”

Ayah Berese berhenti dan memperhatikan sesaat. Mobil itu berwarna hitam dengan roda besar yang dipenuhi lumpur pada setiap sisinya. Kedua kaca di pintunya tertutup rapat. Dan ia sama sekali tak mendapati nomor pada bagian platnya.

“Kapan mereka akan berhenti melakukannya?” Ayah Berese menggumam di dalam hatinya. Dan setelah merasa cukup melihat-lihat mobil itu, ia kembali menapaki jalan berbatu dan tanah yang berwarna merah seperti darah.

“O, ya.. Apa kau tahu kenapa tanah di sini berwarna merah?” Ucap Berese menyela ceritanya seraya melempar pandang kepadaku.

Aku menjawab hanya dengan menggelengkan kepala. Sikapnya kali ini membuat perasaanku sedikit dongkol.

“Menurut tradisi tutur tetua-tetua di kampungku, itu akibat darah yang dimuntahkan bidadari. Konon, bidadari itu menikah dengan seorang pemuda dari kampungku. Dan seiring berjalan waktu, ada saja yang tidak menyetujui hal itu. Kemudian, terjadilah apa yang menyebabkan bidadari itu memuntahkan darah,” ia menghela napas, “Darah itu jatuh di sekitar wilayah ini dan menyatu dengan tanahnya,” Berese lalu melanjutkan.

Sekali lagi aku mengangguk. Dan Berese kembali melanjutkan ceritanya.

Ayah Berese hampir melewati lokasi orang-orang itu jika saja salah satu dari mereka tidak menginjak ranting yang tergeletak di tanah. Ayah Berese tercengang. Ia hanya berjarak sepuluh langkah dari mereka. Lalu dengan megap-megap, ayah Berese berusaha secepat mungkin menemukan tempat persembunyian, berusaha sekeras mungkin agar tak menimbulkan suara dari setiap langkah kakinya.

Sebenarnya, ayah Berese bisa saja mendekati orang-orang itu tanpa bersembunyi atau menjaga jarak dengan mereka. Tapi keberaniannya, atau bahkan pikiran itu sendiri pun tidak pernah terlintas di kepalanya sejak ia mendengar suara letusan dari senjata itu. Ledakannya sangat nyaring, membuat seseorang yang mendengarnya akan bergidik.

Dari tempat persembunyiannya, ayah Berese dapat melihat beberapa orang di balik rimbun dedaunan sedang membidikkan moncong senapannya ke arah rusa berwarna cokelat yang sedang memakan dedaunan. Rusa itu berjarak tak begitu jauh dengan mereka semua. Sesaat kemudian, seseorang akhirnya menembakkan senjata itu.

Rusa yang sedang mencari makan itu lari terbirit-birit. Orang-orang yang menembakkan senjata terlihat saling menepukkan tangan mereka satu sama lain. Mereka terlihat gembira. Kemudian mereka segera berlari mengejar rusa.

Meski masih bisa menjauh dari para pemburu, sayangnya sang rusa sepertinya tak akan bisa selamat. Sebab sebuah peluru kaliber 6 mm berhasil menembus perutnya. Sementara ayah Berese yang bersembunyi di balik rumpun bambu berduri segera menyusul mereka semua dengan memilih jalan pintas,  lalu berlari menuju puncak sebuah bukit.

“O, ya! Apa kau tahu tentang bambu berduri? Atau setidaknya kau pernah melihatnya?” Ucap Berese penuh semangat. Dan tanpa menunggu jawabanku, ia lalu meneruskan kata-katanya.

“Bambu berduri adalah tanaman yang hanya tumbuh di kawasan kampung kami dan hanya bisa ditanam oleh turunan dari leluhur-leluhur kami. Tapi aku tidak tahu apakah dalam proses menanamnya memerlukan ritual atau tidak. Sebab saat ini, aku tidak pernah melihat orang-orang menanam bambu itu.”

“Tapi kau bisa melihatnya jika mau. Mereka tumbuh di tepian jalan yang kita akan lalui jika pulang nanti.”

Aku menghela napas sejenak, kemudian berkata, “Menarik. Tapi bisakah kau ceritakan itu setelah kau menyelesaikan ceritamu yang awal?” Aku mendongkol.

Berese tertawa, “Maafkan aku… baiklah, aku akan melanjutkannya.”

Dari atas bukit, ayahnya melihat rusa yang tertembak itu sedang berlari menyusuri padang ilalang. Langkah rusa itu gontai dan beberapa kali menyebabkannya nyaris terjatuh. Orang-orang yang mengejarnya belum terlihat. “Mungkin mereka tersesat,” Berese menambahkan.

Beberapa waktu kemudian, rusa itu akhirnya terjatuh, tepat di tengah padang. Dan seiring pekiknya yang memilukan, seluruh tubuh rusa itu berubah warna menjadi putih. Perubahan itu terjadi pada bulunya, secara perlahan. Ayah Berese menyaksikan kejadian itu. Ia begitu kaget. Lalu beberapa saat kemudian air mata jatuh membasahi pipinya.

Ayah Berese segera berlari menuju kampung untuk mengabarkan kejadian itu. Langkahnya sangat cepat hingga terasa seperti melayang. Perjalanan menuju kampung yang harus dilalui selama tiga jam itu mendadak berubah menjadi begitu singkat. Jika tak salah mengira, ia tiba di kampung itu hanya dalam waktu lima belas menit. Seperti ada kekuatan lain yang membantunya saat sedang berlari.

Dan setelah seluruh warga kampung tiba di tempat kejadian, mereka tak lagi mendapati rusa putih itu tergeletak di sana. Ia menghilang dan hanya menyisakan capung yang beterbangan tepat di tempat rusa itu sebelumnya tergeletak. Mereka yang menyaksikannya segera mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya.

Hal buruk terjadi kepada orang-orang yang membunuh rusa itu. Mereka tak lagi pernah terlihat sampai saat ini. Dan setelah beberapa bulan berlalu, keluarga mereka pun tak lagi mencari. Mobil yang mereka tinggalkan akhirnya dibakar hingga menyisakan rangka yang hangus. Mobil itu tak lagi bisa dikendarai bahkan berbulan-bulan setelah peristiwa itu berlalu. Tak satupun dari keluarga, teman, atau kerabat dari pemiliknya yang bisa membuka pintunya.

Setelah rusa itu mati, tak ada lagi yang pernah melihat seekor rusa pun di tempat itu. Konon, menurut cerita yang berkembang dari mulut ke mulut, seseorang pernah melihat seekor rusa putih sedang memimpin kawanan rusa lainnya menyeberangi lautan untuk pergi menuju entah ke mana.

“Kau tahu di mana ayahku melihat rusa, itu? Di sini, di atas bukit ini,” ucap Berese.

Seketika kami bergeming. Sepoi angin sekali lagi berembus mengantar hawa dingin hingga menyentuh kulit kami. Di langit, bulan purnama masih terlihat utuh tanpa sehelai awan pun menghalangi sinarnya. Sementara di kejauhan kelap-kelip lampu dari sebuah kota kecil masih terus bersinar.

 

Indonesia, 2020.

Muhammad Asri Agung

Penulis lahir di Kendari, Sulawesi Tenggara 01 Juli 1996

KONTAK KAMI

Sekretariat Jln. Sempur 58, Bogor
bpan@aman.or.id
en_USEnglish