BPAN Akan Melaksanakan Kemah Pemuda Adat Se-Region Kalimantan

oleh Bakti Yusuf Irwandi

 

Jakarta (30/6/2016) – Dalam rangka memperkuat gerakannya untuk berpartisipasi dalam pembangunan Kalimantan yang lebih baik dalam konteks mempertahankan budaya adat Dayak Kalimantan, Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN) Region Kalimantan akan menggelar sebuah kemah bersama. Kegiatan ini disebut Kemah Pemuda Adat Region Kalimantan.

Hal ini dikonsolidasi dan dimusyawarahkan para peserta konsolidasi yang terdiri dari BPAN Kalteng, BPAN Kaltim, BPAN Kaltara dan BPAN Kalbar di Sekretariat Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kalimantan Tengah (Kalteng), Palangka Raya, Rabu, 29/06/2016.

20160629_162555

BPAN se-Kalimantan sedang bermusyawarah (1)

Modesta Wisa Dewan BPAN Region Kalimantan menyampaikan rencana kegiatan Kemah Pemuda Adat ini dalam rangka menindaklanjuti hasil Rapat kerja nasional (Rakernas) II BPAN pada 15-17 Maret lalu di Jakarta.

“Kemah untuk mempertahankan adat istiadat, menggali jejak leluhur/sejarah leluhur, pekan pemuda adat, seminar/dialog publik kebudayaan. Intinya memperkuat, memelihara dan mengembangkan budaya supaya masyarakat bermartabat secara budaya,” ujarnya.

Menurut Kesyadi Antang, kegiatan se-region ini akan menjadi yang pertama kali dilaksanakan di Nusantara. Kemah ini ditargetkan akan diikuti sebanyak 100-200 pemuda adat se-Kalimantan.

“Kemah Pemuda Adat bertujuan, salah satunya, untuk menjalin komunikasi terkait dengan isu-isu yang ada di daerah dan saling memberikan kontribusi pemikiran untuk kemajuan masing-masing BPAN di tiap daerah serta membahas isu-isu ketahanan budaya baik untuk Kalteng, Kalimantan maupun nasional,” ujar  Ketua BPAN Kalteng ini.

20160629_162944

BPAN se-Kalimantan bermusyawarah (2)

Dalam hal ini, bentuk keterlibatan konkret pemuda adat yaitu secara bersama berpartisipasi dalam pembangunan nasional terutama untuk memperjuangkan wilayah adat sesuai amanat Putusan Mahkamah Konstitusi No.35/PUU-X/2012 tentang #hutan adat bukan (lagi) hutan negara.

Untuk lokasi Kemah Pemuda Adat ini dijadwalkan berada di kawasan Air Terjun Tosah, Puruk Cahu Murung Raya, Kalimantan Tengah. Dengan demikian, kemah bersama ini untuk pertama kali akan digawangi oleh BPAN Murung Raya.

Ini bentuk untuk tetap memelihara kemartabatan budaya dan mengingat juga bahwa Murung Raya secara budaya dikenal sangat kuat seperti terlihat dalam Festival Isen Mulang Kalteng yang secara berturut mendapatkan juara satu selama delapan tahun terakhir ini termasuk di tahun 2016. Sehingga hal ini akan terus dikembangkan dan perlu dipromosikan sebagai kekuatan Masyarakat Adat menjunjung tinggi budayanya.

Kearifan Lokal: Gawai di Talang Mamak

oleh Samrizal

 

Salah satu tradisi Masyarakat Adat Talang Mamak adalah adat pernikahan atau yang disebut gawai. Perhelatan gawai di 2016 ini, misalnya diadakan tepatnya di Desa Talang Jerinjing, Kecamatan Rengat Barat, kabupaten Indragiri Hulu, Riau 22-29 Juni 2016. Dalam gawai kali ini terdapat dua pasang pengantin yang tengah mengikat janji sehidup semati.

Pernikahan orang Talang Mamak menurut adatnya selalu menampilkan tradisi menarik berupa atraksi. Atraksi ini serupa berarak melingkar di mana kedua pasang mempelainya diangkat di pundak dan diikuti oleh para batin dan mangku-manti (orang khusus/pengawal) batin khususnya dan diiringi juga oleh kaum perempuan. Menariknya tradisi adat ini diikuti dengan musik tradisional, seperti Gendang, Tawak Tawak dan Celempong. Di tengah-tengah lingkaran ini ada pula dua orang basilat pangian (silat pangian).

[embedyt] http://www.youtube.com/embed?listType=playlist&list=UUXEWNbiCz_IVNoYgk1xxXbA[/embedyt]

Setelah habis berarak, batin dan pemangkunya berjalan menuju tangga naik rumah dan diikuti oleh para pengantin dan masyarakat. Sampai di rumah, makanan untuk disantap makan siang sudah tersedia. Dalam duduk bersila saat makan, barisan mempelai dipisah: mempelai laki-laki berada di depan dan pengantin perempuan duduk di belakang pengantin laki laki. Tidak hanya pengantin, orang yang disunat rasul juga ikut serta makan.

Usai makan sama para batin, pengantin dan batinnya makan sirih yang dicampur dengan pinang ,tembakau dan gambir menurut kebiasaan adat-istiadat orang Talang Mamak. Kemudian masing-masing bisa duduk di mana saja, kecuali batin karena mereka punya aturan tersendiri: batin harus aktif duduk di lapik atau tikar kecil yang ukurannya satu meter persegi, karena tiap menit atau jam harus makan sirih bersama pemangku dan mangku-mantinya serta tamu dari pihak perempuan atau laki-laki yang menggelar pesta.

Di sisi lain tidak hanya atraksi berarak memangku para pengantin sambil berputar mengelilingi sepasang pesilat. Di luar arakan melingkar tersebut diadakan pula sabung ayam. Jumlah ayam yang tengah disabung biasanya ada 80 pasang atau 160 ekor. Dalam sabung ini masing-masing kaki ayam yang disabung dikasih pisau yang sangat tajam. Adu ayam ini berlangsung sepanjang hari, jeda sejenak saat makan siang.

Tugas Penelitian, Pesan Para Leluhur

oleh Jakob Siringoringo

Leluhur masyarakat adat di nusantara meninggalkan sejumlah tugas kepada generasinya. Salah satunya adalah penelitian. Loh kok?

Leluhur yang hidup jauh pada ratusan tahun yang lalu dalam kehidupan sosial politiknya selalu berkarya. Karya-karya yang mereka ciptakan bisa dilihat dalam beberapa wujud, salah satunya adalah bangunan. Bagaimana sebuah rumah dibangun dengan kecakapan teknik yang memiliki rahasia dalam pembuatannya. Rahasia dalam arti berbalut ritual atau tradisi kultus budaya yang menjadi ekspresi mereka dalam berienteraksi dengan alam.

Masyarakat adat Batak, umpamanya, menciptakan rumah adat yang dikenal Ruma Batak atau Jabu Bolon. Pada Jabu Bolon terdapat filosofi yang melekat pada berbagai ornamennya yang dianggap mistis. Selama ini jarang dibicarakan atau dipertanyakan sebab telah dianggap kurang penting, khususnya dalam zaman yang mendahulukan kepentingan ekonomis ini. Ada beberapa ornamen yang bisa dilihat melekat pada Ruma Batak dan setiap ornamen tersebut memiliki akar atau pangkal ide dalam penciptaannya yang bersumber dari keadaan alam sekitar. Dengan kata lain, masyarakat adat Batak pada dasarnya adalah materialis. Berikut akan kita lihat beberapa di antaranya.

Batahan atau Pasak penyangga dinding. Batahan yang berukuran sangat kecil jika dibandingkan dengan yang diembannya dalam kesempatan ini saya jadikan sebagai ornamen pertama yang perlu kita ketahui dari Ruma Batak. Pasak kecil tersebut berada di antara dinding yang mereng, namun di sisi dalamnya diapit pada dinding miring dengan dinding lantai yang berfungsi sebagai kancing atau pengunci dinding miring yang juga menyangga atap sehingga tidak ambruk. Perlu diketahui bahwa atap Ruma Batak yang berbentuk kerucut itu menjulang tinggi seakan menyembah langit. Dengan kayu-kayu panjang dan banyak yang membentuk kerucut tentu memiliki berat yang tidak tanggung-tanggung. Beban inilah yang ditanggung dinding yang miring tadi. Sama sekali tidak rubuh atau goyang apalagi ringsek.

Fungsi batahan yang menjadi pengunci beban tadi sangatlah merupakan sebuah kekuatan rahasia yang jika diyakini sekilas dari sudut pandang rohani pasti dianggap mengandung kekuatan mistis. Daya mistis yang tak terlihat itu bahkan bisa menjadi pembenaran yang terus dijaga dan kemudian pandangan bergeser menjadi aneh atau negatif seiring datangnya konsep keyakinan dari luar, khususnya Timur Tengah yang sensitif terhadap upacara, ritual atau tradisi yang bersanding dengan alam—dalam praktiknya di bumi nusantara.

Karena itu pandangan ini mencoba memberi penjelasan tentang pasak yang memang memiliki kekuatan mistis tak terkira atau hampir tidak masuk akal itu. Pasak tersebut ialah kunci yang memang jadi perkakas terakhir dari susunan rangka yang telah dibentuk sedemikian rupa membentuk ciptaan yang berfungsi maksimal dan diperuntukkan pada usia yang melebihi 100 tahun. Perkiraan saya bahwa sebelum menemukan rumus yang tepat saat membentuk kerangka dinding yang menjunjung atap itu, leluhur masyarakat adat Batak pasti telah mengalami percobaan yang berulang-ulang. Dengan demikian, kreasi ini memang didasarkan pada perhitungan yang matang dan akurat. Bagi saya, kreasi ini dapat dijelaskan demikian. Tentu saja untuk menjangkau keterangan lebih akurat dan meyakinkan, ini bisa dirujuk pada para arsitek yang pernah melakukan penelitian atau lebih jauh yakni yang fokus menelitinya secara saksama dan dalam waktu yang telah teruji.

Berikutnya ada yang disebut dengan singasinga. Nama singa tentu bukan sesuatu yang asing kita dengar. Singa telah sangat lumrah dalam pengenalan kita akan nama-nama binatang. Singasinga jelas berbeda dengan singa yang dalam bahasa Inggris disebut lion. Untuk urusan nama ini tidak kurang hebatnya perdebatan di antara orang-orang Batak yang memang menyangsikan istilah ini sebagai nama yang ada tersendiri dalam keseharian masyarakat adat Batak. Tentu penjelasan bukan tidak ada dari pakar terkait perdebatan khususnya yang meragukan adanya nama ini dalam kosa kata Batak. Pakar filolog asal Jerman, Uli Kozok misalnya memberikan uraian mengenai istilah singasinga ini. Sebab tidak hanya singasinga yang menjadi ornamen dalam Ruma Batak yang menjadi perdebatan bagi banyak orang Batak khususnya di media sosial dewasa ini. Singasinga juga menjadi persoalan sebab ia identik dengan sosok raja yang sudah dikenal luas bahkan dikenal pula sebagai pahlawan nasional: Sisingamangaraja XII.

Tampilan singasinga dalam wajah Ruma Batak memang terlihat cukup aneh sebab wajahnya yang memang ditonjolkan ke depan dilengkapi dengan warna khas Batak (merah, putih, hitam). Bagi masyarakat Batak dewasa ini, khususnya yang sudah mengenal agama samawi, simbol itu juga terasa magis. Dan satu lagi kembali ke persoalan penamaan tadi, bahwa singasinga ini memang sama sekali tidak memiliki kemiripan dengan singa sesungguhnya seperti binatang yang banyak terdapat di Afrika itu.

Singasinga ini pada dasarnya merupakan penjaga rumah yang memang terlihat diam dan seolah tidak bernafas. Singasinga ini sendiri merupakan jelmaan simbol dari belalang yang memang sifatnya kerap mengelabui pemahaman. Mengelabui, yakni saat kita melihat seekor belalang terdiam pada satu wadah, kita kerap akan mengiranya mati dan dengan semudahnya kita bisa menangkapnya. Khayalan itu ternyata kerap menjadi imajinasi yang menjengkelkan, sebab belalang tiba-tiba akan melompat sewaktu kita hendak menyentuhnya karena kita anggap mati. Memang binatang berwarna hijau ini kalau terdiam benar-benar tak bergerak.

Di sisi lain, ini yang paling penting, bahwa singasinga menyimbolkan kemandirian pemilik rumah. Analogi dalam bahasa Batak menerangkan: metmet pe sihapor dijujung do uluna (sekalipun badan belalang kecil, kepalanya tetap dijunjung). Analogi ini menjelaskan bahwa sekalipun kondisi dan status sosial pemilik rumah tidak terlalu beruntung, namun harus selalu tegar dan mampu untuk menjaga integritas dan reputasinya (R. B. Marpaung dalam Nilai Filosofi Rumah Adat Batak). Filosofi inilah yang diterapkan pada singasinga dalam assesoris Ruma Batak.

Sebetulnya setiap ornamen dalam Ruma Batak memiliki penjelasannya tersendiri. Semuanya pula bersumber dari materi-materi yang terdapat di alam sekitarnya. Gorga atau seni ukir Batak, misalnya bersumber dari pohon dan tumbuhan yang terdapat di alam sekeliling. Pohon dimaksud yaitu Harihara atau sering diucapkan Hariara. Pohon ini bahkan memiliki filosofi tersendiri yang memiliki penjelasan panjang. Jadi tidak seperti sekarang ini, Hariara dianggap keramat dan malah menakutkan atau terlebih lagi bertentangan dengan keyakinan yang sudah dianut saat ini. Demikian juga tumbuhan yang menjadi inspirasi lekukan dalam gorga. Salah satu yang paling umum adalah bunga pakis yang melekuk di ujungnya. Dalam bahasa Batak disebut silinduang ni pahu. Tumbuhan ini menjelaskan bahwa motif tersebut menjadi perlambang betapa indah dan jauhnya pencarian perjalanan hidup (tentatif). Dan setiap gorga, uniknya, tidak pernah memiliki arah maupun jenjang yang sama.

Berbicara mengenai gorga ini, tim dari Bandung Fe Institute memperoleh pola-pola matematis. Ornamentasi ini menurut mereka bersifat fraktal: geometri kontemporer (Jejak Matematika dalam Ukiran Gorga Batak). Pola yang mereka kembangkan ke komputer ini menunjukkan bahwa perhitungan terhadap pola ini benar-benar berakar kuat sehingga ia terbentuk tidak sembarangan. Karena itulah motif gorga tidak menciptakan efek negatif atau selalu mengasumsikan wujud mistis yang kerap dianggap tidak lagi bersesuaian dengan kehidupan masyarakat modern. Padahal, gorga itu sendiri adalah karya yang didasarkan pada logika matematika yang memang rumit, bukan mistis semata sehingga dinilai menakutkan. Sesungguhnya penelusuran yang tak kuat atau bahkan tak ada terhadap ornamen inilah yang menutup akses penjelasan yang sebetulnya menjadi rahasia dari karya yang sangat indah ini. Dengan kata lain, gorga adalah karya tangan yang didapatkan melalui pendekatan logika atau matematis, bukan atas ilham yang turun dari wujud tak terlihat.

Di Sulawesi Selatan, khususnya masyarakat adat Khonjo di Sinjai, ada sebuah rahasia atas ketahanan bangunan rumah adat mereka. Konon cerita magis yang muncul menjelaskan bahwa pohon yang ditebang dari hutan untuk membuat rumah adat terlebih dahulu diritualkan. Tujuannya tentu agar kayu yang dipergunakan untuk membuat rumah adat tersebut kebal terhadap segala cuaca, sehingga tahan lama hingga beratus tahun.

Adapun penjelasan dari ritual tersebut adalah bahwa pohon yang ditebang bakal jadi material bangunan tersebut terlebih dahulu diendapkan di kebun tembakau. Jadi kayu yang telah dibentuk sedemikian rupa itu dibiarkan siang dan malam di tengah-tengah tembakau. Rahasianya ternyata adalah air tembakau yang berjatuhan kepada kayu tadilah yang menyebabkan kayu tersebut tahan lama. Rupanya air tembakau tersebut sangat ampuh untuk menolak segala macam binatang penghancur kayu juga terhadap segala macam cuaca yang silih berganti. Dengan demikian, resep ini menjadi penjelasan yang diterapkan dalam ritual yang telah disepakati dan menjadi tradisi masyarakat setempat.

Dengan kata lain, bahwa rahasia ketahanan kayu yang menjadi material rumah adat Khonjo tidak terutama pada aspek ritual yang memang diciptakan. Sesungguhnya penjelasan logis dengan memanfaatkan air tembakau tadi adalah rahasia yang mengantarkan kepastian bahwa kayu tidak lapuk. Penemuan inilah yang menjadi rahasia masyarakat adat Khonjo dalam menjaga ketahanan kayu mereka. Hasilnya jelas: rumah adat mereka bertahan ratusan tahun.

Sesungguhnya banyak lagi pengetahuan masyarakat adat yang bisa didaftar dan dibahas satu per satu yang untuk tulisan singkat ini cukup dulu beberapa contoh yang sudah disebutkan. Pada intinya maksud dari penulisan ini hendak memberitahukan bahwa setiap kekayaan tradisi masyarakat adat di nusantara memiliki penjelasan logis yang kerap selama ini dinafikan. Akibatnya penelusuran atau mencari tahu ilmu itu sendiri terabaikan. Masyarakat beragama (samawi) saat ini telah lebih mengedepankan peribadatan yang menjunjung langit, namun abai terhadap lingkungan sekitar. Adapun doktrin untuk tidak menduakan Sang Pencipta dimaknai secara terpaku dan tidak bisa dicabut apalagi digugat.

Akibatnya jelas masyarakat adat yang telah memeluk agama samawi tadi benar-benar memunggungi identitas awalnya. Mereka bertolak dari kebudayaan leluhur yang telah membuat mereka ada atau memberi nafas. Mereka memutus rantai keterkaitannya dengan leluhurnya. Dengan negasi ini benar-benarlah alam ditiadakan dari pengamatan atau perhatian, sebab dianggap telah bertentangan dengan asumsi yang ditanamkan secara mendalam oleh agama samawi. Padahal mereka hidup di alam. Kesadaran mereka semakin lama semakin memudar. Tak heran pola pikirnya juga mengikuti pola pikir kebudayaan kapitalis yang dekat dengan sifat eksploitasi. Jiwa ekonomis yang pula tertanam bersamaan dengan paham eksploitatif tak terhindarkan menjadi corak budaya masyarakat sekarang. Inilah realita yang menyebabkan ruginya masyarakat adat itu sendiri, sebab mereka telah menegasi identitasnya sendiri yang dinilai berbalik 180 derajat dengan iman samawinya.

Betapa kaya dan beruntungnya masyarakat adat sesungguhnya jika tidak mudah meninggalkan kebudayaan atau identitasnya sendiri. Namun demikian, tantangannya sekarang ini tidak lagi mempertentangkan masuk surga atau neraka. Leluhur masyarakat adat yang arif dan bijaksana tidak mengedepankan wacana abstrak itu, melainkan telah dengan mantap pula meninggalkan jejak peradaban mahakarya yang patut kita lestarikan. Tugas kita juga tidak hanya melestarikan, namun meneliti sehingga pengetahuan mereka terus berlangsung bahkan semakin ditingkatkan. Inilah yang selama ini tidak kita sadari. Diskusi ini mencoba menarik kesimpulan bahwa tugas kita saat ini adalah meneliti pengetahuan yang telah dimulai dan dicipta leluhur. Bukan malah menegasi atau tidak mempedulikannya. [ ]

 

Patroli Hutan Adat

oleh Samrizal

Jakarta (18/6/2016) – Pemuda adat Talang Mamak melanjutkan proses pencarian identitas mereka atau yang biasa disebut Menelusuri Jejak Leluhur. Kali ini, mereka bergerak ke komunitas Dubalang Anak Talang, Talang Mamak Indragiri Hulu Riau. Di sana mereka melakukan patroli hutan adat sekaligus membuat film selama dua hari 15-16 Juni 2016. Rombongan Menelusuri Jejak Leluhur ini terdiri atas BPAN Talang Mamak, Pemuda Sembilan Dubalang Anak Talang dan dua orang dari Hakiki, sebuah organisasi yang memiliki kepedulian terhadap kondisi masyarakat adat di Riau, Ari dan Kidung.

Baca juga: BPAN Talang Mamak, Bergerak Meninggalkan Alasan Tak Produktif

“Patroli hutan adat yaitu meninjau hutan, ingin tahu rusak atau tidak,” kata Jony Iskandar, salah satu anggota Pemuda Sembilan, saat dikonfirmasi lewat telepon, Sabtu (18/6).

BPAN Talang Mamak Patroli Hutan Adat

Rombongan patroli sedang beristirahat. [Dok. Arwan Oscar]

Dalam patroli hutan adat ini mereka menemukan beberapa potensi alam yang indah. Potensi dimaksud merupakan gambaran hutan alami yang terjaga dengan siklus kehidupan manusia, binatang, dan lingkungan berkaitan erat. Hutan adat alami ini menjadi satu contoh bagaimana alam lestari yang membuat manusia hidup dalam alam yang indah dan berkecukupan. Sudah rahasia umum bahwa alam lestari laiknya dalam gambaran itu sudah sulit ditemukan sekarang ini.

Menurut penuturan Jony patroli hutan adat ini sudah berlangsung sejak 2013. Namun selama itu masih berkisar memperhatikan kondisi hutan. Belakangan muncul ide untuk mendokumentasikan kondisi terkini hutan adat dalam bentuk video.

Tidak jauh dari hutan adat yang bisa menjadi rujukan sebagai hutan lestari yang berjabat erat dengan masyarakat adat, itu ternyata kerusakan hutan pun sudah merambat. Adalah PT. Sinaga yang turut merusak hutan adat Dubalang Anak Talang. PT. Sinaga setidaknya telah membabat hutan adat seluas 800 hektar.

Juga kerusakan hutan terjadi di sekitar Air Abadi seluas 60 hektar. Kerusakan lain terdapat pada tiga gua yang merupakan hulu sungai: Sungai Pompang, Sungai Kandis, dan Sungai Ulu Tenaku. Ketiga gua dan Air Abadi ini merupakan sumber mata air bagi masyarakat Dubalang Anak Talang. Mata air ini sangat vital bagi keberlangsungan hidup masyarakat adat Dubalang Anak Talang. Bisa dibayangkan jika dalam sewindu atau satu dekade ke depan masih terus dilanjutkan perusakan hutan bakal terjadi kekeringan di komunitas Dubalang Anak Talang.

13432143_1721049864827201_3835412456417822163_n

Sungai Pompang [Dok. Arwan Oscar]

Arwan Oscar, anggota BPAN Talang Mamak yang sekaligus merangkap biro Infokom AMAN Indragiri Hulu (Inhu), melihat kerusakan hutan adat tersebut, ia pun bergerak cepat bersama-sama pemuda adat Talang Mamak lainnya melakukan aksi. Dalam kerja-kerja Menelusuri Jejak Leluhur, dia bersama kawannya terus mendorong para generasi muda adat di sektarnya untuk memperjuangkan wilayah adatnya.

“Melihat kondisi sekarang 5-10 tahun ke depan kita mungkin akan mengalami kekeringan air bersih,” tulis Arwan Oscar dalam status facebooknya.

Pada kesempatan yang sama, dalam rangka patroli hutan adat ini, rombongan juga membuat film dokumenter tentang kerusakan hutan di sekitar perairan sungai. Film ini bertujuan untuk menunjukkan kondisi kerusakan hutan khususnya di perairan sungai.

“Film yang kita buat itu mengenai kerusakan hutan di perairan sungai. Ini adalah salah satu sisi dari hutan adat Dubalang Anak Talang yang luasnya ± 24.000 hektar,” kata Aan Pardinata, anggota BPAN Talang Mamak.

 

Ritual Tiwah

Oleh Hantingan

 

Rabu 8 Juni 2016 – Masyarakat Adat Datah Poah (Cangkang) Kecamatan Tanah Siang Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah tengah melaksanakan ritual adat memindahkan tulang –belulang manusia yang sudah lama meninggal untuk persiapan kegiatan Totoh/ Tiwah (ritual menghantar roh yang bersangkutan menuju lewu tatau/ surga).

Ritual adat ini memang sudah dilakukan oleh Suku Dayak Siang Murung yang beragama Hindu Kaharingan dari zaman nenek moyang terdahulu yang maknanya yaitu untuk memindahkan tulang tersebut dari peti jenazah lalu dipindahkan ke rumah berbentuk kecil atau yang biasa disebut dengan sandung.

Ritual  ini dilaksanakan oleh keluarga almarhum. Prosesi acaranya yaitu menggali kembali kuburan jenazah yang sudah lama dikubur, lalu membongkar peti jenazah tersebut dan mengumpulkan tulang-tulangnya untuk dibersihkan dan kemudian memasukkannya ke dalam sandung dengan keadaan bersih. Di dalam sandung tersebut sudah tersedia satu kain bahalai dan satu stel pakaian untuk alas tempat tulang-tulang tersebut.

Untuk melakukan ritual ini tidak bisa sembarangan. Dalam ritual ini harus ada yang namanya basi/ basir sebagai pemimpin ritualnya. Selain itu juga harus disediakan babi dan ayam sebagai konsumsi semua orang yang melaksanakan ritual tersebut maupun tamu undangan.

Ingat 1 Juni, BPAN Nusa Bunga Gelar Diskusi tentang Pancasila

Jakarta (4/6/2016)—Bertepatan 1 Juni hari kelahiran Pancasila, Barisan Pemuda Adat Nusantara Wilayah Nusa Bunga menyelenggarakan diskusi dengan tema “Pemuda Adat dan Pancasila dalam Bingkai NKRI” untuk menjadi bekal pemuda dalam membangun kampung serta menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia, di Kampus Stipar Ende Rabu (1 Juni) lalu.

“Hari ini, kita mengenang hari kelahiran Pancasila, 1 Juni yang sudah berusia 71 tahun. Sudah tujuh dekade republik ini berdiri. Selama itu pula, Pancasila tampil sebagai nilai penjaga keutuhan negara. Tak bisa dipungkiri, Republik Indonesia masih berdiri hingga hari ini berkat Pancasila juga. Namun, Pancasila dihadirkan bukan hanya sebagai alat pemersatu, tetapi juga sebagai dasar negara sekaligus penunjuk jalan bagi bangsa ini menuju masyarakat adil dan makmur,” beber Jhuan Mari dari AMAN.

Di sela-sela diskusi, peserta yang hadir mengutarakan bahwa Pancasila harus diwujudnyatakan dalam kehidupan sehari-hari.

“Pancasila adalah dasar dan filosofi negara yang kepadanya seluruh rakyat Indonesia berpijak. Berpijak di sini  bukan cuma dihayati dan elus-elus, namun harus dipraktikkan ke dalam kehidupan sehari-hari. Kita, Barisan Pemuda Adat Nusantara bukan hanya memahami secara teori semata apa itu pancasila, namun kita perlu membangun kecerdasan dalam berpijak  dan melihat ketertindasan masyarakat adat di Indonesia,” kata Ketua BPAN Kans.

Menurutnya masyarakat adat di Indonesia mengalami ketertindasan akibat kebijakan di negara ini yang tidak menjalankan nilai-nilai Pancasila. Bahkan di luar dari sila-sila yang ada dalam Pancasila itu sendiri. Sebenarnya kalau dijalankan secara benar, hari ini masyarakat adat di Indonesia tidak mengalami ketertindasan dan diskriminasi.

Hal senada disampaikan Andre bahwa Pancasila adalah dasar negara. Menjadi dasar, tambahnya, semestinya pemangku kepentingan negara tidak melanggar dasar negara. Jika dalam pengelolaan bangsa ini tidak sesuai dengan Pancasila, maka sebenarnya mereka itulah yang mengkhianati dasar negara. Ambil contoh penggusuran, perampasan tanah masyarakat adat  secara sepihak oleh negara  dan penghilangan orang yang ingin memperjuangkan hidupnya.

Selain itu, salah seorang peserta diskusi menanyakan bagaimana peran pemuda khususnya pemuda adat untuk mengahayati dan menjalankan nilai-nilai Pancasila.

“Peran pemuda adat, ya harus pulang kampung membangun kecerdasan masyarakat adat akan hak-haknya, menjaga wilayah adatnya dan kembali menelusuri jejak leluhur sebagai bagian dari mengenal identidas diri kita,” tutur Kans.

Lebih lanjut dikatakannya, “Kita, pemuda harus melakukan sesuatu untuk membantu negara ini dalam mewujudkan cita-cita nasional yaitu masyarakat adil dan makmur. Kembali ke kampung dan mulailah dari kampung, di sanalah kita akan menemukan pembangunan nasional yang sesungguhnya.”

 

 

Media BPAN

Kisah Dua Sahabat Karib Beda Dunia

Cerita Rakyat dari Kalimantan Timur

 

Di sebuah hutan dengan pepohonan yang rimbun dan suasana asri serta sejuk-segar ditambah aliran air sungai yang sangat jernih dan dingin, terdengar kicauan burung-burung sangat merdu sekali. Benar-benar suasana yang indah. Dalam hutan tersebut hidup berbagai jenis burung-burung. Sementara dalam sungai yang terdapat di hutan tersebut juga ada beberapa jenis ikan yang hidup di dalam aliran air yang jernih. Dalam suasana yang indah dan asri ini, terdapat sepasang sahabat yang sangat tak terpisahkan. Mereka mengerjakan berbagai hal selalu bergotong-royong dan bekerjasama dengan baik. Sahabat karib itu adalah Lele dan Lesio.

 

Kedua sahabat ini hidup berdampingan mengelola tanah di sekitar hutan sebagai sumber hidup mereka. Mereka hidup dengan mengandalkan hasil-hasil tanaman yang mereka tanam dan dari hutan maupun sungai serta lingkungan sekitarnya.

 

Suatu ketika, musim untuk menanam padi tiba. Ikan Lele dan burung Lesio bekerja bersama-sama dengan cara bergotong royong secara bergilir. Mereka bekerja dengan giat dan penuh sukacita hingga tak terasa waktu pun berlalu sampai pekerjaan mereka selesai dengan baik. Hati mereka pun merasa puas dan bahagia. Beberapa minggu kemudian padi di ladang mereka sudah mulai tumbuh dan subur, namun terdapat rumput yang tumbuh juga di sekitar padi.

 

Setelah beberapa bulan kemudian Si Lele dan Lesio sepakat untuk bergotong-royong meruput (membersihkan rumput di sekitar tanaman padi). Pertama, mereka memulai bergotong royong di sawah sang burung. Mereka bekerja dengan semangat sambil bercerita dan bercanda gurau hingga tak terasa matahari sudah tinggi menunjukkan tengah hari. Perut mereka pun mulai keroncongan.

 

Lesio lalu pamit pulang untuk menyiapkan makan siang. Sesampainya di rumah Lesio pun mulai menanak nasi dan merebus air. Ia dengan tergesa-gesa menyelesaikan pekerjaan tersebut sampai-sampai lupa bahwa di rumahnya tidak ada lauk yang bisa disiapkan untuk makan siang.

 

“Wah, bagaimana ini tidak ada lauk. Aduh…,” gumam sang burung dengan perasaan sangat bingung. Sementera nasi sudah masak dan air sudah mendidih. Lesio memasang akal. Akhirnya tanpa berpikir panjang, sang burung pun mencelupkan kedua kakinya yang berwarna hitam ke dalam air yang mendidih sehingga kedua kakinya langsung berubah warna menjadi kuning.

 

Sang burung pun memanggil sahabatnya untuk beristirahat dan makan. Tidak lama kemudian, sang ikan sampai juga di pondok. Hidangan yang telah disediakan Lesio segera dilahap. Namun saat makan, Lele heran mengapa tidak ada lauk dan sambal. Ia hanya memakan kuah dan nasi. Pun begitu rasanya justru sangat enak.

 

“Heei…Lesio mengapa kuah ini enak rasanya?” tanya sang ikan terheran-heran kepada sahabatnya.

 

Sang burung pun menjawab dengan malu-malu, “He, he, he,… itu karena saya mencelupkan kedua kaki saya ke dalam kuah itu pada waktu airnya mendidih. Coba lihat kedua kaki saya, warnanya sudah berubah menjadi kuning.”

 

Si Lele mengangguk-angguk kepalanya tanda mengerti. Selesai makan, mereka beristirahat lagi sejenak sebelum meneruskan kerja, meruput.

 

Matahari pun telah lebih dekat ke peraduannya. Itu artinya, pekerjaan sudah tunai seharian. Akhirnya Si Lele pamit pulang. Berikutnya giliran sang burung yang akan membantu sang ikan. Mereka pun berjanji untuk bergotong royong di sawahnya Si Lele.

Hari yang ditentukan pun tiba. Sang burung, Lesio, terbang ke sawah sang ikan. Keduanya mulai meruput bersama-sama dengan semangat. Tanpa terasa cahaya sang surya tegak lurus dengan bumi. Pertanda tengah hari dan saatnya mempersiapkan makan siang.

 

Saat itulah Si Lele pamitan kepada sang burung pulang duluan untuk memasak. Setibanya di pondok, Lele mulai menanak nasi dan merebus air. Sang ikan merencanakan hidangan yang nikmat seperti telah dia rasakan sebelumnya di pondok sang burung. Niat baiknya tersebut selain bentuk service, juga sebagai balas budi atas pelayanan Lesio, sang burung.

 

Lele berkata dalam hatinya, ”Si Lesio merendam kakinya ke dalam air mendidih dan kuahnya terasa sangat lezat dan enak. Saya juga akan mencelupkan ekor ke dalam air ini. Pasti rasanya tidak kalah enaknya seperti masakan Lesio dan dia pasti suka.”

 

Tanpa berpikir panjang sang ikan pun mencelupkan ekornya ke dalam air mendidih. Bukan seperti sahabatnya, nasib Lele sungguh malang. Saat sang ikan hendak mencelupkan ekornya, ia pun tercebur ke dalam air panas. Sahabat baik Lesio tidak bisa menahan hanya bagian ekor yang tenggelam di air mendidih, karena badannya yang licin. Tak terelakkan lagi karena tak ada pertolongan, akhirnya sang ikan pun mati.

 

Sahabat Lele, sang burung di kebun sudah menunggu  panggilan untuk makan, tapi tak jua kunjung datang. Melihat matahari sudah menunjukkan lebih dari tengah hari dan perutnya pun terasa sangat lapar dan keroncongan bagai alunan suara musik gendang Jaipong, Lesio pun memutuskan untuk menyusul sahabatnya.

 

Setibanya di pondok suasana sangat sunyi sekali.

 

“Ada apa ya, kok sunyi sekali,” gumam sang burung perlahan.

 

Merasa penasaran, sang burung terus saja masuk ke pondok dan tidak mendapatkan sahabatnya Si Lele. Ia pun memanggil: “Lele…apa kamu ada di pondok?”

 

Sepi. Hampa. Tidak ada jawaban dari sahabatnya. Sang burung terus berjalan ke dapur lalu ia melihat nasi telah terhidang, tapi sang ikan tidak juga kelihatan batang hidungnya.

 

Tetapi di atas tungku terjerang sepanci air. Burung pun segera menelisik ke dalam panci tersebut. Alangkah terkejutnya sang burung saat menyaksikan isi di dalam panci tersebut ternyata adalah sahabatnya Si Lele yang telah mati dan masak oleh panasnya air mendidih.

 

Lesio mengangkat panci tersebut sambil berkata, “Wahai sahabatku, nasibmu sungguh malang. Niat hati memberi yang terbaik, tapi nasib berkata lain.”

 

Burung pun langsung terbang ke dalam hutan sambil bernyanyi, ”Ajutn mate asenk da’at, pepuluq uli lati kinas ilu danum.” Artinya “Teman mati, hati bersedih. Burung tempatnya di hutan dan di pohon, sementara ikan tempatnya di dalam air.”

 

Burung terus terbang namun hatinya sangat sedih ditinggal sang sahabat. Ia pun terbang terus semakin jauh ke dalam hutan.

 

Itulah kisah mengapa burung dan ikan tidak bersahabat dan kaki burung Lesio yang berubah warna menjadi kuning hingga sekarang.

 

 

 

Pipi Supeni

BPAN Talang Mamak, Bergerak Meninggalkan Alasan Tak Produktif

Generasi muda adalah generasi emas yang memiliki sejuta bakat dan kemampuan. Selain kemampuan, terlebih lagi, memiliki semangat yang berkobar sebagaimana darahnya masih berada di fase didihnya. Penduduk di  Indonesia yang 250 juta jiwa itu sebagian besar adalah generasi muda. Bahkan dewasa ini Indonesia mengalami modus demografi.

Indonesia sebagai negara kepulauan, di tengah ketidakjelasan pemimpinnya, beruntung ada Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). Pemuda dalam masyarakat adat yang tergabung dalam AMAN merupakan satu faktor penting dalam pergerakannya memperoleh perlindungan dan pengakuan hak-hak masyarakat adat.

Sebagai masyarakat adat yang memiliki kesamaan dalam perjuangan dan pergerakannya, maka kelompok mudanya juga turut dipersatukan dalam prinsip senasib sepenanggungan. Khusus kaum muda yang memiliki caranya sendiri dalam berekspresi ini kemudian dipersatukan dalam satu wadah yang disebut Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN). Dengan demikian, para pemuda ini menamakan diri sebagai pemuda adat.

Kini pemuda adat yang tergabung dalam wadah BPAN sudah tersebar di tujuh region di Indonesia. Ketujuh region dimaksud antara lain Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali-Nusa Tenggara, Kepulauan Maluku, dan Papua. Salah satu yang terdapat di region Sumatera adalah Indragiri Hulu, Riau.

Bertanya dan Belajar Bersama

BPAN Indragiri Hulu atau yang akrab dikenal Talang Mamak dideklarasikan pada 27 Maret 2013. Sejak dideklarasikan, pemuda-pemuda adat Talang Mamak sangat antusias dalam mengurus kampung. Meskipun kerja-kerja mengurus wilayah adat seperti ini sudah jarang dilakukan oleh generasi muda sekarang; dan barangkali ini yang membedakan pemuda adat di Talang Mamak dan pemuda adat di wilayah lain.

Kaum muda kebanyakan lebih suka pergi ke kota. Kaum muda yang dimaksud di sini terutama yang berasal dari kampung atau yang BPAN sebut sebagai pemuda adat. Mereka terbius kehidupan urban yang memang jauh dari kebiasaan di kampungnya. Inilah kecenderungan orang muda dewasa ini sebagai efek dari pemikiran bahwa kesuksesan lebih masuk akal didapat di kota. Sebelumnya bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, kehidupan kota lebih menjanjikan daripada kehidupan di kampung. Hal ini ditambah lagi dengan anggapan bahwa masyarakat yang tinggal di kampung dianggap sebagai orang terbelakang, ketinggalan zaman, udik, dan sebagainya.

Kenyataan umum ini berbanding terbalik dengan pemuda adat Talang Mamak. Pemuda adat di Riau ini justru bangga dengan kampungnya. Mereka melangkah perlahan tetapi pasti, memiliki semangat untuk menjaga dan mengurus wilayah adat/kampungnya. Tentu saja satu dua orang ada yang tidak sejalan dengan mereka dengan menganggap bahwa kerja-kerja itu tidak mendatangkan hasil/materi bahkan merugi. Namun, pemuda adat wilayah Talang Mamak yang dari hari ke hari bertambah banyak justru semakin kuat dan berenergi mengurus wilayah adatnya.

Semangat yang luar biasa ini terwujud dari kerja-kerja sehari-hari mereka dalam menggali jejak leluhur. Mereka kini bergegas menggali pengetahuan tradisional yang secara umum berkaitan atau mendukung kehidupan alam dan kemanusiaan. Dengan antusias, para pemuda adat terus menggali sejarah asal-usul, wilayah adat dan segala pengetahuan yang bertautan atau berkelindan satu sama lain dalam kehidupan sosial masyarakat adat Talang Mamak.

Mereka bertanya ke sana kemari, misalnya kepada tetua adat. Selain itu mereka juga melakukan kegiatan bersama, misalnya, berkemah di hutan dan melalui kemah ini diharapkan mereka semakin dekat dengan alam dan leluhur. Karena itu, mereka semakin mendekati wilayah adatnya, adat-istiadatnya atau budayanya dan alamnya yang merupakan asal-usul alias jati dirinya sendiri.

Kerja-kerja ini menjadi bagian dari kesadaran pemuda adat untuk menjaga dan mempertahankan wilayah adat mereka. Hilangnya tanah—sebagaimana terjadi di wilayah lain—yang disebabkan oleh perusahaan dan atau klaim hutan negara oleh negara, membuat kaum muda adat ini semakin menyadari kepemilikan atau kedaulatan atas wilayah adat dan segala isinya.

Selain bertanya mengenai sejarah kampung dan berkemah, mereka juga sudah melakukan penanaman pohon yang melibatkan masyarakat, termasuk anak-anak sekolah. Mereka juga perlahan-lahan melakukan pendokumentasian atas kerja-kerja mereka, misalnya saat menggali sejarah asal-usul. Mereka menuliskannya dan kemudian mengambil foto-foto terkait.

Tak berhenti sampai di situ, perlahan-lahan mereka juga mempelajari seni budaya masyarakat Talang Mamak. Sebagai kaum muda, tentu saja seni budaya, misalnya musik, tari, silat, permainan tradisional dan seterusnya sangat dekat dan cocok. Sebagai pemuda adat yang bangga berbudaya, pemuda adat Talang Mamak sangat senang mengurus wilayah adat. Sebagaimana anak muda, kerja-kerja yang dilakukan pun sangat sederhana, yakni kreatif, attraktif, happy dan fun. 

Dalam kenyataannya, di atas semua itu, pemuda adat Talang Mamak memahami wadah BPAN adalah sebagai sesuatu yang sangat penting dan tepat. Bagi mereka, BPAN adalah wadah bersama dalam menyikapi kesamaan pengalaman dengan pemuda-pemuda adat lain se-nusantara. Inilah kerja-kerja semangat, bahagia dan kreatif yang dilakukan dengan senang hati dan mengalir bagai sungai. Juga didukung oleh para tetua adat yang memahami kegiatan-kegiatan di wilayah adat yang sarat kearifan ini.

Catatan Kecil

Pengalaman singkat dan sederhana dari Talang Mamak ini, betapa pun kecilnya, sangat berharga. Karena itulah sebuah catatan kecil dari daratan tengah Pulau Sumatera ini boleh dijadikan sebagai model atau pemicu bagi wilayah lain. Semangat membara menunjukkan kesungguhan dan keseriusan pemuda adat Talang Mamak. Tidak ada yang istimewa dari satu wilayah ke wilayah lain, namun semangat dan kerja keraslah yang memberikan perbedaan kemajuan dalam perjalanannya.

Di antara BPAN wilayah yang sudah ada di tujuh region, Talang Mamak hanyalah salah satu yang bisa kita lihat bergerak mengurus wilayah adat dengan semangat dan kerja nyata yang tidak diperumit oleh wacana dan pemikiran. Mereka yang berprinsip untuk menyelamatkan wilayah adat dari kemungkinan dihancurkan kebijakan kehutanan atau kapitalis pemangku kepentingan/keuntungan, bangkit dan bergerak tanpa banyak teori maupun alasan. Inilah sikap dan praktik yang muncul dari pemuda adat Talang Mamak. Dengan demikian, pemuda adat sudah selalu siap: bangkit, bersatu dan bergerak. Maju dan berekspresi.

 

 

[Jakob Siringoringo]

Ekspresi Musik Tradisional

 Pesta Budaya Rondang Bittang

Pesta Rondang Bittang adalah suatu kegiatan yang bersifat massal serta tradisional pada suku Simalungun. Pesta Rondang Bittang merupakan penyampaian rasa syukur dan terimakasih kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala keberhasilan hidup dalam satu tahun penuh. Pesta ini dilakukan pada saat bulan purnama di mana bintang-bintang turut menambah keindahan terang bulan. Perayaan ini merupakan sarana mempererat rasa kekeluargaan, melestarikan seni budaya bangsa sebagai peninggalan leluhur, kesempatan bersukaria di antara seluruh warga masyarakat dan pewarisan serta kesempatan mempelajari seni budaya bagi generasi muda dan remaja.

pretty tujuh

Menari massal [Dok. Pretty Manurung]

Di dalam acara ini banyak bentuk-bentuk kesenian Simalungun yang ditampilkan, seperti Tortor Sombah yang disebut-sebut sebagai tarian agung atau tarian klasik yang biasa dipersembahkan untuk menyambut orang-orang yang dihormati. Jumlah penari dalam Tor Tor Sombah/sembah ini enam orang. Selain itu, terdapat Huda-huda atau Toping-toping yaitu tarian Simalungun yang memakai topeng dan paruh burung Enggang. Jenis tarian ini diiringi Gual Huda-huda, jumlah penarinya ada tiga orang. Ada lagi Taur-taur yakni duet tradisional Simalungun yang menggambarkan cinta yang berkomunikasi melalui lagu.

pretty lima

Tortor Sombah [Dok. Pretty Manurung]

Tidak hanya itu, ada berbagai macam lagi acara yang ditampilkan mulai dari menari Tortor (manortor), menyanyi (taur-taur), berbalas pantun (marumpasa) dengan diiringi musik tradisional seperti Gual, Sulim, Sordam, Tulila sampai olahraga ketangkasan tradisional.

***

Masyarakat suku Simalungun memiliki musik tradisional yang secara turun-temurun digunakan dan berfungsi dalam kehidupan sehari-harinya. Musik tradisional Simalungun diwariskan turun-temurun secara lisan kepada generasi berikutnya.

Penggunaan Sarunei dalam ensambel gonrang sebagai musik pengiring tari-tarian yang ditampilkan dalam Pesta Rondang Bittang, misalnya,  dapat memberikan reaksi jasmani pada setiap penonton. Bunyi-bunyian Sarunei tersebut akan menjadi sumber komunikasi bagi masyarakat, baik yang muda maupun tua. Sehingga para penonton yang biasanya mayoritas muda-mudi berdatangan ke tempat tersebut untuk menonton, melihat, menari dan menggunakan kesempatan tersebut untuk saling berkomunikasi, berinteraksi bahkan mencari jodoh.

***

Berdasarkan pengklasifikasian/penggolongannya, maka alat-alat musik tradisional Simalungun dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

Klasifakasi/Golongan Idiofon

  1. Mongmongan, yaitu alat musik yang terbuat dari bahan metal, kuningan atau besi yang mempunyai “pencu” (bossed gong). Ada dua jenis mongmongan: sibanggalan dan sietekan yang dipergunakan dalam seperangkat gonrang sidua-dua dan gonrang sipitu-pitu/gonrang bolon. Fungsi mongmongan dipergunakan untuk memanggil massa di suatu kampung.
  2. Ogung, yaitu alat musik yang terbuat dari bahan metal, kuningan atau besi yang mempunyai pencu (bossed gong). Ogung juga memiliki dua macam yaitu sibanggalan dan sietekan yang dipergunakan dalam seperangkat gonrang sidua-dua dan gonrang sipitu-pitu/gonrang bolon.
  3. Gerantung, adalah alat musik yang terbuat dari kayu dan mempunyai kotak resonator (trough resonator). Kotak resonator ada yang terbuat dari kayu, ada yang langsung ditempatkan di atas lobang tanah sebagai resonatornya. Gerantung terdiri dari tujuh bilah dan mempunyai nada yang berbeda. Gerantung biasanya dimainkan sebagai hiburan ketika istirahat di ladang sebagai pelepas lelah dan sebagai bahan pelajaran untuk menabuh gonrang sipitu-pitu/gonrang bolon.

Klasifikasi/Golongan Aerofon

  1. Sarunei bolon, suatu alat musik yang mempunyai dua lidah (double reed) sebagai lobang hembusan yang dipergunakan sebagai pembawa melodi dalam seperangkat gonrang sidua-dua dan gonrang sipitu-pitu/gonrang bolon. Badannya terbuat dari silastom, nalih-nya terbuat dari timah, tumpak bibir terbuat dari tempurung, lidah terbuat dari daun kelapa dan sigumbang terbuat dari bambu. Sarunei bolon mempunyai enam lobang di bagian atas dan satu lobang di bawah.
  2. Sarunei buluh, adalah suatu alat musik yang mempunyai lobang hembusan yang terdiri dari satu lidah (single reed) yang memukul badannya sendiri. Sarunei buluh yang terbuat dari bambu ini mempunyai tujuh lobang suara. Enam lobang berada di bagian atas dan sisanya di bagian bawah.

Klasifikasi/Golongan Membranofon

  1. Gonrang Sidua-dua, adalah gendang yang dipergunakan dalam seperangkat gonrang sidua-dua. Badannya terbuat dari kayu Ampiwaras dan kulitnya terbuat dari kulit Kancil atau kulit Kambing. Gonrang sidua-dua terdiri dari dua buah gendang, oleh karena itu diberi nama gonrang sidua-dua.
  2. Gonrang sipitu-pitu/gonrang bolon, adalah gendang yang terbuat dari kulit pada bagian atas sedangkan sebelah bawah ditutup dengan kayu. Gendang terdiri dari tujuh buah yang badannya terbuat dari kayu dan kulitnya terbuat dari kulit lembu, kerbau atau kambing. Gendang ini dipergunakan dalam seperangkat gonrang sipitu-pitu/gonrang bolon.

Klasifikasi/Golongan Kordofon

  1. Arbab, adalah alat musik yang tabung resonatornya terbuat dari labu atau tempurung; lehernya terbuat dari kayu atau bambu; lempeng atas terbuat dari kulit kancil atau kulit biawak; senar terbuat dari benang dan alat penggesek terbuat dari ijuk enau yang masih muda.
  2. Husapi, adalah alat musik sejenis lute yang mempunyai leher, terbuat dari kayu dan mempunyai dua senar. Bagian badan dan lehernya dihiasi gambar ukiran wajah manusia.

***

Masyarakat Batak Simalungun merupakan suku yang sangat menjunjung tinggi warisan leluhur. Ucapan syukur mereka senantiasa dipanjatkan lewat upacara adat. Budaya para leluhur yang menjadi kebanggaan suku Simalungun salah satunya adalah pemakaian Ulos. Ulos yang disebut Hiou sarat ornamen. Secara legenda bagi masyarakat Simalungun, Ulos dianggap salah satu dari tiga sumber kehangatan manusia selain api dan matahari.

Sampai sekarang ini Pesta Rondang Bittang masih dilestarikan dan menjadi pesta tahunan bagi masyarakat Simalungun, Sumatera Utara.

pretty

Pemuda budaya [Dok. Pretty Manurung]

[Pretty  Manurung]

 

KONTAK KAMI

Sekretariat Jln. Sempur 58, Bogor
bpan@aman.or.id
en_USEnglish