Pantun
Payah kita menanam padi
Nenas juga ditanam orang
Payah kita menanam budi
Cemas juga dipandang orang
~Jidro Utan
Payah kita menanam padi
Nenas juga ditanam orang
Payah kita menanam budi
Cemas juga dipandang orang
~Jidro Utan
Jika mengabulkan permintaan untuk mati
Adalah pekerjaan mudah bagi Tuhan
Mungkin tak kan ada
Manusia hidup bergandeng beban…!!!
~Zulvan Setiawan
Sui Utik, 19082016
Dulu aku masih utuh
Hijau dan dapat membantu
Memberi semangat
Memberi semuanya
Kesejukan
Alunan kicau burung masih menghibur
Kini aku dirusak
Badanku terasa sakit-sakit
Semuanya telah hilang
Apa yang harus kuberi
Tolong-tolong selamatkan aku dari bahaya ini
~Samsudin
Hutanku saat ini gundul
Airku saat ini keruh
Rumahku tak lagi sejuk
Sekelilingku menjadi perkebunan mereka
Mereka, ya mereka
Mereka yang datang memberi impian di tahan adatku
Mereka yang datang menawarkan perubahan ini untuk masyarakatku
Entahlah! Entahlah!
Saat itu saja harapan besar dari masyarakat adatku untuk mereka
Saat itu terasa sakit saat hutanku dihancurkan oleh mereka
Tapi sakit itu ditelan dalam-dalam berharap ada penghiburan layak setelahnya?
Waktu cepat berlalu
Saat itu kurasakan penyesalan
Menyesal membiarkan mereka di antara tanah adatku
Semua harapan hilang
Kami menjadi buruh di tanah sendiri
Kelaparan di tanah ayah sendiri
Kesakitan di tanah leluhur ini
Hmm… hanya penyesalan
Tapi larut dalam penyesalan tak mengubah sekelilingku
Aku harus berjuang mempertahankan hutanku yang tersisa
Merapatkan barisan menyatukan keberanian
Bersama masyarakat adatku walau kematian menjadi taruhan
~Zaimaturrohimah
Jalan-jalan ke pulau Jawa
Mampir dulu di lembus wana
Hai teman-teman semua
Ini kami orang-orang mempesona
Jalan-jalan ke pulau Jawa
Hanya untuk mencari dukun
Hai kalian-kalian semua
Jawab pertanyaan saya dengan pantun
Ke hutan menangkap burung perkutut
Oke, siapa takut
Orang kentut pastilah bau
Kentutnya di kayu belian
Kalau aku boleh tahu
Darimana asal kalian
Sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa
Jika dibaca mata berkaca-kaca
Kami ini dari desa
Tapi kami suka membaca
Pergi berobat ke rumah dokter
Sampai di sana gak bawa pitis
Kami belajar pendidikan populer
Untuk memunculkan kesadaran kritis
Pergi ke dokter gak bawa pitis
Mampir-mampirlah di kota sambas
Kita belajar pendidikan kritis
Untuk berpihak kepada yang lemah dan tertindas
Duduk-duduk di kota Sambas
Melihat orang berpasang-pasangan
Kalau kita berpihak kepada yang lemah dan tertindas
Jangan lupakan alat-alat perjuangan
Duduk-duduk dengan kalem
Sambil melihat gadis Pulan
Kami kemarin menonton film
Tentang rencana wilayah kehidupan
Duduk kalem melihat gadis Pulan
Sambil memandangi kegelapan
Kita menonton rencana wilayah kehidupan
Untuk menata masa depan
Jalan-jalan ke Balik Papan
Sampai di sana bertemu wisatawan
Kalau kita membuat rencana kehidupan
Jangan lupakan peran perempuan
Mencari rotan di tengah duri
Terinjak duri karena ketakutan
Jangan pernah kita mementingkan diri sendiri
Karena kita saling membutuhkan
Kalau kamu membawa mantra
Bacalah ia dengan saksama
Hai teman-teman Kalimantan, Jawa, Papua dan Sumatera
Kita semua punya permasalahan yang sama
Pergi liburan ke Sumbawa
Transit dulu di Surabaya
Hai teman-teman semua
Apasih permasalahannya…?
Kalau transit di Surabaya
Surabaya itu di pulau Jawa
Kamu mau tau apa permasalahannya
Hutan kita habis dibawa
Ke pasar pagi membeli serai
Membeli serai untuk masak sayuran
Masyarakat kita banyak yang bercerai-berai
Kalai begitu ayo lakukan penyadaran
Membeli serai untuk masak sayuran
Kenapa kita harus melakukan penyadaran?
Ngopi-ngopi di kota Padjadjaran
Sambil memakan buah ampelan
Kita harus terus melakukan penyadaran
Akan pentingnya mencintai alam
Surabaya itu memang di pulau Jawa
Di pulau Jawa juga ada Jogja
Hutan kita memang habis dibawa
Tapi kebersamaan kita harus dijaga
Kalau ke Jogja harus ke Jakarta
Beli tiket jangan lewat perantara
Kebersamaan kita memang harus dijaga
Karena kita Barisan Pemuda Adat Nusantara
Bergandeng tangan dengan kekasih
Cukup sekian dan terima kasih
(Karya: M. Nafis, Sui Utik, 24 Agustus 2016).
Ilalang mengering pada bukit-bukit
Akan kembali hijau
Saat hujan turun di penghujung tahun…
Mendiang sahabat lirih
Berbisik seperti inilah
Tanah kita
Oh adikku generasi penerus
Kalau kau besar nanti
Kau akan pergi jauh hingga ke seberang samudera…
Tapi sepermai apapun negri orang
Kau bakal selalu merindukan
Bahwa kesejukan alam wilayah adatmu penuh ilalang…
~Nopaldi Saogo
Indonesia memiliki keanekaragaman yang di dalamnya terdapat berbagai adat istiadat, suku, bangsa, bahasa dan budaya yang terangkum dalam identitas.
Masyarakat adat sudah mendapatkan pendidikan yang bersifat formal mulai dari TK sampai Perguruan Tinggi. Dalam pendidikan formal itu masyarakat adat dituntut untuk bisa membaca, menulis, mengetahui sejarah Indonesia—yang didominasi oleh sejarah kerajaan/kesultanan. Pendidikan formal dalam prosesnya mendidik mempergunakan bahasa pengantar yang diseragamkan di seluruh Indonesia: bahasa Indonesia. Selain itu, bahasa pergaulan internasional juga dikedepankan, meskipun hasilnya tidak membuat peserta didik bisa menguasai bahasa Inggris setidaknya pasif setelah menyelesaikan masa studinya.
Pendidikan formal membuat masyarakat adat bercita-cita untuk meninggalkan kampung halamannya. Anak-anak hingga dewasa berduyun-duyun pergi ke kota untuk alasan mengenyam pendidikan. Semakin mengenal kota, mereka malah ingin menetap di sana selamanya.
Dalam pendidikan formal tidak diajarkan tentang sejarah identitas asli para pelajar. Tidak pula diajarkan atau dianjurkan untuk berbahasa daerah. Dampaknya perlahan adalah adanya tanda perubahan dalam diri si perantau mulai muncul. Salah satunya yaitu mereka malu untuk berbahasa daerah. Kenyataan hari ini, bahasa daerah yang merupakan identitas masyarakat adat yang sangat melekat itu hampir jarang digunakan karena merasa malu untuk menggunakannya.

Seiring berjalannya arus modernisasi yang membuat generasi muda mengesampingkan hal ini, pendidikan adat yang di dalamnya terdapat sekolah adat harus hadir di tengah-tengah masyarakat adat.
Kalimantan Barat yang memiliki banyak komunitas adat di dalamnya juga memiliki permasalahan serupa. Oleh karena itu, kami—Modesta Wisa, Dwiana Sari, Reni Raja Gukguk, Yosita, dan Katarina Ria, generasi muda adat Kalimantan Barat—berinisiatif mendirikan sebuah sekolah adat. Sekolah adat bernama “SAMABUE” ini merupakan wujud kepedulian terhadap identitas peninggalan leluhur kami. Samabue merupakan nama sebuah bukit yang dianggap sakral atau keramat oleh masyarakat adat yang berada di komunitas Binua Manyalitn. Banyak ritual adat yang dilakukan di bukit Samabue ini. Hal ini membuat kami, perintis sekolah adat, untuk menyepakati pemberian nama sekolah adat itu.

Sekolah ini bertujuan untuk menciptakan generasi muda adat yang kreatif berbudaya, menggali kembali sejarah komunitas serta suku Dayak Kanayatn, dan mempertahankan kearifan lokal di tengah arus modernisasi.
Sekolah Adat Samabue ini berdiri pada 24 Februari 2016. Dengan struktur pengurus meliputi ketua, sekretaris, bendahara, divisi donasi dan divisi rekrutmen serta tenaga pengajar.
Saat ini sekolah adat Samabue ini sudah berjalan di tiga komunitas adat yaitu Binua Manyalitn, Binua Lumut Tangah dan Binua Kaca dengan jumlah murid sekitar 60 orang. Sekolah Adat Samabue ini merekrut anak didik mulai dari usia 4 sampai 15 tahun.

Sekolah Adat Samabue ini memiliki kelas tari tradisional, kelas sejarah yang sesuai dengan komunitas, kelas singara (bercerita) dan kelas musik tradisional. Sekolah Adat Samabue ini juga memiliki kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan di komunitas serta dengan konsep ‘’Semua Orang Itu Guru, Alam Raya Sekolahku’’.
Adapun lokasi sekolah adat ini tepat di komunitas Binua Manyalitn, Kecamatan Menjalin, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat.
~Modesta Wisa
Jakarta, September 2016—Gotong royong pemikiran menjadi salah satu ciri pelatihan yang sehat dan menerobos laju permasalahan. Istilah gotong royong yang biasa masyarakat kenal dalam aktivitas fisik atau bergerak ternyata sangat tepat pula kemudian diadopsi dalam diskusi.
“Gotong royong pemikiran, gotong royong pemikiran,” demikian selalu Serge Marti sampaikan dalam berbagai sesi di pelatihan yang dihelat secara gotong royong oleh BPAN, AMAN, LifeMosaic dan The Samdhana Institute.
Pembelajaran dalam pelatihan ini adalah mengenai bagaimana generasi muda masyarakat adat dapat berperan aktif dalam perjuangan untuk mempertahankan dan mengurus wilayah adat. Peserta belajar tentang rencana kehidupan, lingkaran tak terputus dari wilayah adat di masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Selama pelatihan, seluruh peserta selalu terlibat aktif. Dengan beragam metode yang disajikan fasilitator tentu sangat memperkaya bekal peserta untuk menjadi fasilitator di komunitasnya masing-masing. Metode partisipatif dan berbentuk lingkaran selalu menjadi ruang yang diciptakan untuk memulai dan melanjutkan setiap kegiatan. Efektifitas lingkaran tentu sangat terasa sekali bagi seluruh peserta dalam mengikuti pelatihan yang dinikmati dengan serius, santai, dan selesai itu.
Menurut Ibu Viktoria Mael, jenis pelatihan ini berbeda sekali dengan yang pernah ia dapatkan sebelumnya. Pelatihan ini mengantarkan peserta pada tingkat partisipasi yang maksimal sehingga setiap sesi yang memunculkan pembahasan atau masalah yang harus dihadapi selalu dipecahkan secara bersama-sama. Dalam duduk melingkar diibaratkan bahwa semua orang setara, sehingga tidak ada yang mendominasi atau malah menguasai kegiatan.
“Jadi, menurut saya ini adalah pelatihan yang sangat bagus. Sebelumnya saya bekerja di birokrasi dan mendapat pelatihan namun bentuknya hanya searah. Bahkan kita tidak punya waktu untuk menyatakan pendapat. Kita selalu hanya jadi pendengar,” tuturnya.
Berbeda dengan Ibu Viktoria atau yang bisa disapa Ibu Viki itu, Jafri pemuda adat dari Talang Mamak menyampaikan bahwa pelatihan dengan bercermin pada metode-metode yang digunakan sudah pernah ia ketahui. Hal itu ia dapat dengan turut mempraktikkan beberapa metode dalam pelatihan ini secara langsung di Talang Mamak bersama dengan Eny dan Simon dari LifeMosaic.
Sungai Utik kembali menjadi tempat penyelenggaraan pelatihan yang sudah dimulai sejak 2014. Tiga kali berturut-turut. Pelatihan ini diadakan di Sungai Utik karena sebagai salah satu komunitas anggota AMAN, komunitas ini sangat representatif untuk memancing keterpanggilan pemuda.
Komunitas Sungai Utik terletak di Desa Batu Lintang, Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Luas wilayah adat Sungai Utik adalah ± 9.453, 40 Ha, yang 80% merupakan kawasan hutan. Hampir semua penduduk Sungai Utik tinggal di Rumah Panjang (Rumah Betang) yang panjangnya ± 220 M dan dipimpin oleh seorang Tuai Rumah.
Sungai Utik merupakan salah satu komunitas adat di Kalimantan Barat yang hingga saat ini berhasil mempertahankan wilayah adatnya dari berbagai ancaman luar. Tercatat tahun 1980-an, wilayah adatnya menjadi incaran pembalakan liar dan Hak Penguasahaan Hutan (HPH). Dengan perlawanan yang kompak serta kesadaran akan pentingnya wilayah adat bagi generasi selanjutnya, mereka berhasil mengatasi ancaman tersebut dan sekarang dapat mengurus sendiri wilayah adatnya dengan lestari. Oleh karena praktek-praktek kearifan dalam mengelola wilayah adatnya, tahun 2008 Sungai Utik menerima sertifikat ekolabel atas pengelolaan hutan adat secara lestari yang diserahkan langsung oleh Menteri Kehutanan RI.
Pelatihan ini diadakan selama tiga minggu (16 Agustus – 06 September 2016). Peserta sebanyak 24, yakni para pemuda/i adat datang dari 12 provinsi yang sudah representatif dari barat sampai timur Indonesia.
[Media BPAN]
Walau pun terkesan klasik, namun Ketidakadilan yang terjadi pada masyarakat adat telah berdampak buruk bagi kaum mudanya. Banyak pemuda adat yang kemudian menjadi buruh di tanahnya sendiri karena sumber daya alamnya telah dieksploitasi secara massif oleh beragam perusahaan tambang maupun perkebunan skala besar. Pada titik inilah, BPAN sebagai organisasi menjadi wadah kaderisasi dan perjuangan masyarakat adat di lini pemuda khususnya di Kota Palangka Raya.
Meneruskan mandat pengembangan BPAN di setiap daerah, maka Pengurus Daerah Barisan Pemuda Adat Nusantara Kota Palangka Raya melakukan Jambore Daerah II dengan konsep “Kemah Pemuda Adat” selama tiga hari yaitu dari tanggal 22 s/d 24 Juli 2016 di Bumi Perkemahan Kambariat Tuah Pahoe, Kereng Bangkirai Palangka Raya yang dihadiri oleh perwakilan-perwakilan pemuda adat yang ada di Kota Palangka Raya berjumlah 12 orang. Kegiatan Jambore Daerah ini merupakan mekanisme tertinggi dalam organisasi sebagai metode pengambilan keputusan terkait pergantian pengurus organisasi. Ajang ini digunakan sebagai momen pemilihan pengurus organisasi di mana terpilih secara aklamasi untuk kali keduanya Murniasih sebagai Ketua BPAN Kota Palangkara periode 2016-2019.
Sebelum pelantikan ketua daerah dilakukan, selama 3 hari peserta diajak melakukan serangkaian kegiatan, mulai dari seremoni, diskusi terbuka, mengenal budaya, menelusuri wilayah adat, dan merumuskan program kerja organisasi.

Foto bersama
Bangunan program kerja BPAN Kota Palangka Raya yang berhasil dirumuskan tersebut dialaskan dari persoalan-persoalan nyata yang dirasakan oleh para pemuda adat, seperti rapuhnya rasa persaudaraan di tingkat pemuda adat Kota Palangka Raya, sikap acuh tak acuh yang marak terjadi di kalangan pemuda adat Kota Palangka Raya dan malu menggunakan bahasa lokal dalam percakapan sehari-hari, dan lain-lain. Berdasarkan persoalan ini maka pemuda adat perlu membangun rasa kolektivitas dan kepercayaan diri untuk berpijak pada kebudayaannya dan sikap pergaulan yang merujuk pada integritas masyarakat adat secara umum. Selain itu, peningkatan kapasitas dalam hal pengkaderan keanggotaan dan penguatan kelembagaan/ organisasi juga penting untuk dilakukan oleh BPAN Kota Palangka Raya
Pertemuan ini juga berhasil merumuskan Program Kerja BPAN Kota Palangka Raya. “Selain merumuskan program kerja, lewat pertemuan ini kita harus memberikan sebuah pikiran rekomendasi terkait perjuangan masyarakat adat,” kata Ketua PW BPAN Kalteng Kesyadi Antang.
Menurut Kesyadi saat ini dan seterusnya mendesak Pemerintah Propinsi Kalimantan Tengah untuk mengesahkan Ranperda Pengakuan dan Perlindungan Hak-hak Masyarakat Adat, membentuk instansi/badan untuk pemberdayaan masyarakat adat. Selain itu juga mendesak Pemerintah Kota Palangka Raya membuat regulasi dalam bentuk Perda (peraturan daerah) untuk memperkuat dan menindaklanjuti Putusan Mahkamah Konstitusi No.35/PUU-X/2012 supaya hak-hak masyarakat adat semakin jelas dan bertambah kuat dalam pengelolaan sumber daya alam di wilayah adatnya masing-masing.
[BPAN]
© Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN)