Pemuda Adat Sembalun Jadi Penggerak Budidaya Kopi, Kolaborasi BPAN dan Unram Dorong Regenerasi Petani Muda.

SEMBALUN, LOMBOK TIMUR — Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN) Daerah Sembalun mengambil peran strategis dalam mendorong keterlibatan generasi muda pada pengembangan pertanian berkelanjutan melalui budidaya sehat tanaman kopi. Langkah ini menjadi bagian dari kolaborasi bersama Program Profesor Berdampak Universitas Mataram (Unram) dalam membangun ekosistem pertanian kopi yang berbasis pada kekuatan masyarakat dan generasi muda di Sembalun, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.
Kolaborasi tersebut menjadi tindak lanjut dari kegiatan sosialisasi, penyuluhan, dan diskusi yang dilaksanakan pada 18 Juli lalu. Dalam tahapan lanjutan program, Tim Program Profesor Berdampak Unram menggandeng kelompok petani milenial Talenta Muda Lokal sebagai local champion sekaligus memperkuat keterlibatan pegiat muda yang berada di bawah Pengurus Daerah Barisan Pemuda Adat Nusantara (PD BPAN) Sembalun.
Bagi BPAN Daerah Sembalun, keterlibatan dalam program ini bukan sekadar tentang pengembangan komoditas kopi. Lebih dari itu, program ini menjadi ruang bagi Pemuda Adat untuk mengambil peran langsung dalam menjaga, mengelola, dan mengembangkan potensi wilayahnya melalui pertanian yang berkelanjutan.
Sebanyak 1.000 bibit Kopi Arabika Ateng Super. diserahkan kepada kelompok pegiat perkopian yang berada di bawah Pengurus Daerah Barisan Pemuda Adat Nusantara (PD BPAN) Sembalun. Penyerahan bibit tersebut menjadi langkah awal dalam membangun gerakan budidaya kopi yang sehat sekaligus membuka ruang bagi generasi muda untuk terlibat dalam pengembangan pertanian dari sektor hulu hingga hilir.
Keterlibatan Pemuda Adat dalam pengembangan kopi juga menjadi bagian dari upaya menjawab tantangan regenerasi petani di Sembalun. Di tengah perkembangan kawasan Sembalun sebagai salah satu destinasi wisata unggulan, generasi muda diharapkan tidak hanya menjadi penonton dari pertumbuhan ekonomi daerah, tetapi menjadi pelaku utama yang mengelola potensi wilayah dan menciptakan peluang ekonomi bagi komunitasnya.
Ketua BPAN Daerah sembalun yang juga merupakan Young Ambassador Agriculture, Abdul Robi, menyambut positif kolaborasi tersebut. Ia menyatakan dukungannya terhadap Program Profesor Berdampak Unram dan siap bersinergi dengan berbagai pihak untuk memastikan program dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Sembalun.
Menurutnya, pengembangan kopi memiliki peluang besar untuk dikembangkan di Sembalun. Potensi tersebut semakin kuat dengan meningkatnya kunjungan wisatawan nusantara maupun mancanegara ke kawasan Sembalun, sehingga kopi dapat menjadi salah satu komoditas yang memperkuat ekonomi lokal sekaligus memperkenalkan potensi pertanian masyarakat kepada dunia luar.
“Kami sangat mendukung Program Profesor Berdampak ini dan siap bersinergi bersama mitra untuk menyukseskannya. Harapannya, program ini benar-benar dirasakan dampaknya oleh masyarakat Sembalun. Semangat ini juga sejalan dengan gerakan pulang kampung yang selama ini menjadi ruh gerakan Pemuda Adat di seluruh Nusantara,” ujar Abdul Robi.
Semangat tersebut menjadi penting bagi BPAN Daerah Sembalun dalam membangun kesadaran generasi muda bahwa wilayah adat bukan hanya ruang untuk ditinggalkan demi mencari kehidupan di tempat lain, tetapi juga memiliki potensi yang dapat dikembangkan menjadi sumber penghidupan yang berkelanjutan.
Melalui penguatan sektor pertanian, Pemuda Adat didorong untuk kembali melihat tanah, hutan, dan sumber daya alam di wilayahnya sebagai ruang hidup yang harus dijaga sekaligus dikelola secara bijaksana. Pengembangan kopi menjadi salah satu pintu masuk untuk mempertemukan pengetahuan lokal, inovasi pertanian, dan semangat generasi muda dalam membangun ekonomi komunitas.
Dukungan terhadap regenerasi petani juga disampaikan Kepala Desa Sembalun Bumbung, Hizmanurrozi, SM. Ia menilai keterlibatan generasi muda menjadi kebutuhan mutlak untuk memastikan keberlanjutan usaha tani di Sembalun, termasuk dalam pengembangan komoditas kopi yang memiliki tren permintaan semakin meningkat.
Menurutnya, peningkatan kualitas kopi harus dimulai sejak dari lahan atau on farm. Dengan demikian, kopi Sembalun diharapkan mampu memiliki daya saing yang lebih kuat dan semakin diminati pasar domestik maupun global.
“Regenerasi petani di Sembalun mutlak dilakukan sebagai bagian dari keberlanjutan usaha tani. Termasuk dalam pengembangan kopi, yang permintaannya terus meningkat. Karena itu, diperlukan upaya peningkatan kualitas produk sejak dari kegiatan di lahan atau on farm, sehingga kopi Sembalun semakin diminati pasar domestik maupun global,” ungkap Hizmanurrozi.
Sementara itu, Ketua Tim Program Profesor Berdampak Unram, Prof. Ir. M. Sarjan, M.Agr.CP., Ph.D, mengatakan bahwa program tahun ini akan difokuskan pada penguatan aspek on farm, khususnya penerapan budidaya sehat berbasis Good Agricultural Practices (GAP).
“Untuk tahun ini, kita mulai dari kegiatan on farm terkait penerapan budidaya sehat berbasis Good Agricultural Practice atau GAP,” kata Prof. Sarjan.
Menurutnya, program tidak berhenti pada penyediaan bibit. Tim Profesor Berdampak akan melakukan pendampingan secara berkelanjutan dalam pemeliharaan tanaman kopi. Pendampingan mencakup pemupukan berimbang, Pengelolaan Hama Terpadu (PHT), hingga penerapan sistem irigasi hemat air.
Program ini akan dikawal selama tiga tahun oleh tim dosen lintas bidang bersama para mitra. Tim tersebut terdiri atas Prof. Taufik Fauzi, Prof. Ruth Stell, Prof. Mukmin Surtatni, Prof. Yusron Saadi, Ir. Hery Hatyanto, M.Si., serta mitra Asep Norman Tanjung.
Bagi BPAN Daerah Sembalun, pendampingan jangka panjang tersebut menjadi peluang penting untuk memperkuat kapasitas Pemuda Adat dalam mengembangkan pertanian berbasis pengetahuan dan inovasi. Generasi muda diharapkan dapat terlibat sejak proses pembibitan, penanaman, perawatan, panen, pengolahan, hingga pemasaran produk kopi.
Dengan demikian, Pemuda Adat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga menjadi penggerak utama dalam membangun rantai nilai kopi di wilayahnya.
Pengembangan kopi berbasis generasi muda juga diharapkan dapat memperkuat posisi masyarakat lokal di tengah pesatnya pertumbuhan sektor pariwisata Sembalun. Potensi agrowisata dapat dikembangkan secara berdampingan dengan pertanian masyarakat, sehingga pertumbuhan pariwisata tidak hanya memberikan keuntungan bagi sektor jasa, tetapi juga menciptakan ruang ekonomi baru bagi petani dan komunitas lokal.
Dalam konteks tersebut, BPAN Daerah Sembalun melihat pertanian sebagai bagian penting dari masa depan masyarakat. Ketika anak muda kembali ke kampung, mengelola tanah, mengembangkan pertanian, dan membangun usaha berbasis potensi wilayah, maka gerakan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan ruang hidup masyarakat.
Program Profesor Berdampak Unram diharapkan dapat menjadi salah satu model kolaborasi yang mempertemukan perguruan tinggi, Pemuda Adat, petani muda, pemerintah desa, dan berbagai mitra dalam satu ekosistem pembangunan yang berkelanjutan.
Kolaborasi ini juga sejalan dengan semangat pembangunan yang menempatkan generasi muda sebagai aktor penting dalam menciptakan perubahan. Penguatan budidaya kopi diharapkan tidak hanya meningkatkan produksi dan kualitas komoditas, tetapi juga membuka peluang usaha baru, menciptakan lapangan pekerjaan, dan memperkuat perputaran ekonomi masyarakat Sembalun.
Prof. Sarjan dan tim berharap program ini dapat melahirkan lebih banyak petani muda yang menjadi pelaku utama pengembangan kopi dari hulu hingga hilir.
“Harapan kami, melalui Program Profesor Berdampak Universitas Mataram ini, akan muncul petani-petani muda yang menjadi pelaku pengembangan kopi dari hulu sampai hilir. Mulai dari pembibitan hingga menghasilkan olahan kopi berkualitas. Dengan demikian, akan terbuka lapangan pekerjaan baru dan terjadi perputaran ekonomi yang semakin kuat di kawasan agrowisata Sembalun,” pungkas Prof. Sarjan.
Bagi Pemuda Adat Sembalun, pengembangan kopi bukan hanya tentang komoditas dan nilai ekonomi. Ia adalah bagian dari upaya membangun kembali hubungan generasi muda dengan tanah dan ruang hidupnya.
Dari Sembalun, Pemuda Adat menunjukkan bahwa menjaga wilayah tidak selalu dilakukan melalui perlawanan, tetapi juga melalui kerja nyata: menanam, merawat, mengembangkan, dan memastikan tanah tetap menjadi sumber kehidupan bagi generasi hari ini dan generasi yang akan datang.
Melalui kolaborasi BPAN Daerah Sembalun dan Program Profesor Berdampak Universitas Mataram, gerakan ini diharapkan menjadi langkah awal lahirnya lebih banyak Pemuda Adat yang pulang, bertani, berinovasi, dan membangun kampungnya sendiri.
Oleh : Azmi Efendi BPAN Sembalun



